MANAJEMEN MADRASAH DI ERA GLOBALISASI

MANAJEMEN MADRASAH DI ERA GLOBALISASI

Oleh: Amin Wahyu Handoko

NPM: 13.0401.0009

  1. PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan dapat dipecahkan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.

Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan hasil ujian nasional siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah/madrasah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.

Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri.

Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah/madrasah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.

Oleh karena itu peningkatan kualitas merupakan salah satu persyarat agar kita dapat memasuki era globlalisasi yang penuh dengan persaingan. Keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam tidak akan lepas dari persaingan global tersebut. Untuk itu peningakat kualitas merupakan agenda utama dalam meningkatkan mutu madrasah agar dapat survive dalam era global. TQM (Total Quality Management) atau yang biasa kita kenal dengan Manajemen Madrasah merupakan konsep peningkatan mutu secara terpadu di bidang manajemen dan masih cukup baru dalam dunia pendidikan. Makalah yang kami buat ini mencoba menguraikan bagaimanakah Manajemen Madrasah itu.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka rumusan masalah dapat kami uraikan sebagai berikut :

  1. Pengertian Manajemen.
  2. Pengertian Madrasah Dan Globalisasi.
  3. Manajemen Madrasah (Kinerja Madrasah).
  4. Karakteristik Manajemen Madrasah.
  5. Madrasah di Era Globalisasi.

Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang, dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah kami ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah manajemen madrasah itu?dan seberapakah penting manajemen dalam madrasah itu?

  1. Pengertian Manajemen

Manajemen berasal dari kata “to manage” yang berarti mengatur, mengurus atau mengelola. Banyak definisi yang telah diberikan oleh para ahli terhadap istilah manajemen ini. Namun dari sekian banyak definisi tersebut ada satu yang kiranya dapat dijadikan pegangan dalam memahami manajemen tersebut, yaitu : Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakandan pengendalian/pengawasan, yang dilakukan untuk menetukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.

Sedangkan pengertian menurut ahli-ahli yang lain adalah sebagai berikut :

1)    Menurut Horold Koontz dan Cyril O’donnel :

“Principles of Management” mengemukan sebagai berikut : “manajemen berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain” (Management involves getting things done thought and with people). Manajemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.

2)      Menurut R. Terry :

“Principles of Management” menyampaikan pendapatnya : “manajemen adalah suatu proses yang membeda-bedakan atas ; perencanaan, pengorganisasian, penggerakan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya” (Management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling, utilizing in each both science and art, and followed in order to accomplish predetermined objectives)

3)      Menurut James A.F. Stoner :

Dalam bukunya “Management” (1982) mengemukakan “manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan”

4)      Menurut Lawrence A. Appley :

Manajemen adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain.

5)      Menurut Drs. Oey Liang Lee :

Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Luther Gulick, menejemen diartikan sebagai ilmu, profesi dan kiat. Karena menajemen dipandang sebagai bidang ilmu pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Follet mengatakan menejeman adalah sebagai kiat, karena menejeman mencapai sasaran dengan cara-cara mengatur orang lain dalam menjalankan tugas. Dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai prestasi manajer, dan para professional dituntut oleh suatu kode etik.

Meskipun cenderung mengarah pada suatu focus tertentu, para hali masi berbeda pandangan dalam mendefinisikan manajemen dan karenanya belum dapat diterima secara umum atau universal. Namun demikian terdapat konsesus bahwa manajemen menyangkut derajat keterampilan tertentu. Untuk memahami istilah manajemen, pendekatan disini yang digunakan adalah pengalaman manajer, meskipun pendekatan ini mempunyai keterbatasan, namun hingga kini belum ada perbaikan. Manajemen disini dilihat sebagai suatu system yang setiap komponennya menampilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan. Manajemen merupakan suatu proses sedangkan manajer dikatakan sebagai suatu organisai (orang-struktur-tugas-teknologi) dan bagaiman mengaitkan aspek yang satu dengan yang lainya, serta bagaimana mengaturnya sehingga mencapai tujuan system.

Dalam proses manajemen terdapat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang manajer/pimpinan, yaitu : perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling). Oleh karena itu, manajemen diartikan sebagai proses merencanakan, mengorganisai, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.

Fungsi perencanaan antara lain menentukan tujuan atau kerangka tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu. Ini dilakukan dengan mengkaji kekuatan dan kelemahan organisai, menentukan kesemopatan dan ancamanya, menentukan strategi, kebijakan, taktik dan program, semua itu dilakukan berdasarkan pengambilan keputusan secra ilmiah.

Fungsi pengorganisasian meliputi penentuan fungsi, hubungan dan struktur. Fungsi berupa tugas-tugas yang dibagi kedalam fungsi garis, staf dan fungsional. Hubungan terdiri dari tanggung jawab dan wewenag. Sedangkan strukturnya dapat horizontal dan fertikal. Semuanya itu memperlancar alokasi sumber daya dengan kombinasi yang tepat untuk mengkomplimentasikan rencana.

Fungsi pemimpin mengambarkan bagaimana seorang manajer/pemimpi mengarahkan dan mempengaruhi bawahanya, bagaimana orang lain melaksanakan tugas ang esensial dengan menciptakan suasana yang menyenagkan untuk bekerja sama.

Fungsi pengawasan meli[puti penentuan standar, supervise, dan mengukur penampilan/pelaksanaan terhadap standard an memberikan keyakinan bahwa tujuan organisai tercapai. Pengawasan sangat erat kaitanya dengan perencanaan, karena melalui pengawasan efektivitas manajemen dapat diukur.

  1. Pengertian Madrasah

Kata “madrasah” dalam bahasa Arab adalah bentuk kata “keterangan tempat” (zharaf makan) dari akar kata “darasa”. Secara harfiah “madrasah” diartikan sebagai “tempat belajar para pelajar”, atau “tempat untuk memberikan pelajaran”. Dari akar kata “darasa” juga bisa diturunkan kata “midras” yang mempunyai arti “buku yang dipelajari” atau “tempat belajar”; kata “al-midras” juga diartikan sebagai “rumah untuk mempelajari kitabTaurat’.

Kata “madrasah” juga ditemukan dalam bahasa Hebrew atau Aramy, dari akar kata yang sama yaitu “darasa”, yang berarti “membaca dan belajar” atau “tempat duduk untuk belajar”. Dari kedua bahasa tersebut, kata “madrasah” mempunyai arti yang sama: “tempat belajar”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata “madrasah” memiliki arti “sekolah” kendati pada mulanya kata “sekolah” itu sendiri bukan berasal dari bahasa Indonesia, melainkan dari bahasa asing, yaitu school atau scola.

Sungguhpun secara teknis, yakni dalam proses belajar-mengajarnya secara formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah, namun di Indonesia madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yakni “sekolah agama”, tempat di mana anak-anak didik memperoleh pembelajaran hal-ihwal atau seluk-beluk agama dan keagamaan (dalam hal ini agama Islam).

Dalam prakteknya memang ada madrasah yang di samping mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan (al-‘ulum al-diniyyah), juga mengajarkan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum. Selain itu ada madrasah yang hanya mengkhususkan diri pada pelajaran ilmu-ilmu agama, yang biasa disebut madrasah diniyyah. Kenyataan bahwa kata “madrasah” berasal dari bahasa Arab, dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyebabkan masyarakat lebih memahami “madrasah” sebagai lembaga pendidikan Islam, yakni “tempat untuk belajar agama” atau “tempat untuk memberikan pelajaran agama dan keagamaan”.

Para ahli sejarah pendidikan seperti A.L.Tibawi dan Mehdi Nakosteen, mengatakan bahwa madrasah (bahasa Arab) merujuk pada lembaga pendidikan tinggi yang luas di dunia Islam (klasik) pra-modern. Artinya, secara istilah madrasah di masa klasik Islam tidak sama terminologinya dengan madrasah dalam pengertian bahasa Indonesia. Para peneliti sejarah pendidikan Islam menulis kata tersebut secara bervariasi misalnya, schule Nakosteen menerjemahkan madrasah dengan kata university (universitas). la juga menjelaskan bahwa madrasah-madrasah di masa klasik Islam itu didirikan oleh para penguasa Islam ketika itu untuk membebaskan masjid dari beban-beban pendidikan sekuler-sektarian. Sebab sebelum ada madrasah, masjid ketika itu memang telah digunakan sebagai lembaga pendidikan umum. Tujuan pendidikan menghendaki adanya aktivitas sehingga menimbulkan hiruk-pikuk, sementara beribadat di dalam masjid menghendaki ketenangan dan kekhusukan beribadah. Itulah sebabnya, kata Nakosteen, pertentangan antara tujuan pendidikan dan tujuan agama di dalam masjid hampir-hampir tidak dapat diperoleh titik temu. Maka dicarilah lembaga pendidikan alternatif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan umum, dengan tetap berpijak pada motif keagamaan. Lembaga itu ialah madrasah.

George Makdisi berpendapat bahwa terjemahan kata “madrasah” dapat disimpulkan dengan tiga perbedaan mendasar yaitu: Pertama, kata universitas, dalam pengertiannya yang paling awal, merujuk pada komunitas atau sekelompok sarjana dan mahasiswa, Kedua; merujuk pada sebuah bangunan tempat kegiatan pendidikan setelah pendidikan dasar (pendidikan tinggi) berlangsung. Ketiga; izin mengajar (ijazah al-tadris, licentia docendi) pada madrasah diberikan oleh syaikh secara personal tanpa kaitan apa-apa dengan pemerintahan.

Erat kaitannya dengan penggunaan istilah ”’madrasah” yang menunjuk pada lembaga pendidikan, dalam perkembangannya kemudian istilah “madrasah” juga mempunyai beberapa pengertian di antaranya: aliran, mazhab, kelompok atau golongan filosof dan ahli fikir atau penyelidik tertentu pada metode dan pemikiranyang sama. Munculnya pengertian ini seiring dengan perkembangan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang di antaranya menjadi lembaga yang menganut dan mengembangkan pandangan atau aliran dan mazdhab pemikiran (school of thought) tertentu. Pandangan-pandangan atau aliran-aliran itu sendiri timbul sebagai akibat perkembangan ajaran agama Islam dan ilmu pengetahuan ke berbagai bidang yang saling mengambil pengaruh di kalangan umat Islam, sehingga mereka dan berusaha untuk mengembangkan aliran atau mazhabnya masing-masing, khususnya pada periode Islam klasik. Maka, terbentuklah madrasah-madrasah dalam pengertian kelompok pemikiran, mazhab, atau aliran tersebut. Itulah sebabnya mengapa sebagian besar madrasah yang didirikan pada masa klasik itu dihubungkan dengan nama-nama mazhab yang terkenal, misalnya madrasah Safi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah dan Hambaliyah. Hal ini juga berlaku bagi madrasah-madrasah di Indonesia, yang kebanyakan menggunakan nama orang yang mendirikannya atau lembaga yang mendirikannya.

  1. Pengertian Globalisasi

Globalisasi sering diartikan dengan hampir tidak ada batas negara atau sering juga disebut dengan era informasi, era keterbukaan, era liberalisasi, pasar bebas, kompetisi dan era kerjasama regional maupun global . Era atau masa seperti ini tidak bisa dihindari tetapi harus dihadapi dengan segala perkembangannya (Rahim, 2001:129). Dimana saling ketergantungan antar bangsa semakin besar begitu pula persaingan makin lama makin meluas. Salah satu konsekuensi dari kenyataan ini adalah keharusan mengenal masyarakat dunia dengan cukup baik sehingga tidak ditinggalkan maupun dirugikan oleh bangsa lain (Buchori, 1995:143).

Dalam kaitan era globalisasi, H.A.R. Tilaar (2002:2) mengidentifikasi beberapa ciri utamanya, di antaranya:

1)      Dunia tanpa-batas (borderless world);

2)      Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan aplikasinya dalam kehidupan manusia

3)      Kesadaran terhadap hal dan kewajiban asasi manusia (human rights and obligations)

4)      Mega-competition society (kerjasama dan kompetisi antar bangsa).

Rahim (2001:129) menambahkan tanda-tanda era globalisasi di antaranya:

1)      kompetitif, yaitu bersaing (kompetisi) baik antar individu, negara ataupun usaha yang semakin tajam;

2)      perdagangan bebas, yaitu dimana akan berhadapan keunggulan produk masing-masing negara yang bebas berkeliaran di Indonesia maupun sebaliknya.

3)      Keterbukaan.

4)      Demokrasi.

5)      Hak asasi manusia.

6)      Hak atas kekayaan intelektual.

7)      Masalah lingkungan hidup.

  1. Kinerja Madrasah (Manajemen Madrasah)

Kinerja madrasah atau yang lebih jelasnya adalah manajemen yang diartikan sebagai administrasi, dan pengelolaan bahkan di berbagai literatur dalam fungsi pokoknya seringkali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama. Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistematik, sistemik dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Istilah manajemen mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif dan efisien (Mulyasa, 2009:24).

Adapun fungsi pokok dari manajemen atau pengelolan antara lain:

1)   Perencanaan, yaitu proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang.

2)   Implementasi atau pelaksanaan, yaitu kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

3)            Pengawasan, yaitu upaya mengamati secara sistematis dan berkesinambungan.

4)   Pembiayaan, yaitu rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya.

Dengan keberadaan manajemen madrasah diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan, dimana dalam manajemen madrasah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah, sedangkan desentralisasi berarti daerah yang artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat (Masyuliantoro , 2010).

  1. Karakteristik Manajemen Madrasah

Karakteristik manajemen madrasah dapat diketahui antara lain dari bagaimana madrasah dapat mengoptimalkan kinerjanya, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga pendidikan serta sistem administrasi secara keseluruhan. Manajamen madrasah bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mutu dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi, antara lain diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh antara lain melalui revitalisasi partisipasi orang tua terhadap madrasah, fleksibilitas pengelolaan madrasah dan pembelajaran, peningkatan profesionalisme guru dan kepala madrasah serta pemberlakuan sistem hadiah dan hukuman, peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu.

Adapun karakteristik manajemen madrasah antara lain:

1)      Pemberian otonomi luas kepada madrasah

Manajemen madrasah harus memberikan otonomi luas kepada madrasah disertai seperangkat tanggung jawab untuk mengelola sumber daya dan pengembangan strategi sesuai dengan posisi setempat. Madrasah diberi kekuasaan dan kewenangan yang luas untuk mengembangkan kurikulum dan pelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik serta tuntutan masyarakat. Melalui otonomi yang luas ini madrasah dapat meningkatkan kinerja tenaga pendidikan dan tenaga kependidikan dengan menawarkan partisipasi aktif mereka.

2)      Partisipasi masyarakat dan orang tua tinggi

Orang tua siswa dan masyarakat tidak hanya mendukung madrasah melalui bantuan keuangan, tetapi melalui komite madrasah dan dewan pendidikan. Bahkan masyarakat dan orang tua dapat menjalin  kerjasama untuk memberikan bantuan, pemikiran, serta menjadi nara sumber pada berbagai kegiatan peningkatan kualitas pembelajaran di madrasah.

3)      Kepemimpinan yang demokratis dan professional

Kepala madrasah dan guru-guru sebagai faktor utama penyelenggaraan pendidikan di madrasah merupakan figur yang memiliki kemampuan dan integritas profesional. Dalam proses pengambilan keputusan, manajemen madrasah menuntut kepala madrasah mengimplementasikannya secara demokratis sehingga semua pihak memiliki tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil beserta pelaksanaannya.

4)      Team-work yang kompak dan transparan

Keberhasilan program-program madrasah tentunya didukung oleh kinerja tim yang kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan di madrasah.

  1. Madrasah di Era Globalisasi

Untuk menyelenggarakan madrasah di era globalisasi diperlukan sistem pengelolaan madrasah yang baik, di mana kepala madrasah yang menjadi kunci utama dalam hal ini yang mampu membangun kreasi dan imajinasi kearah pengembangan pendidikan yang lebih baik secara kompetitif. Dan hubungan  public relation yang komunikatif agar selalu mampu memberikan sumbangsih terhadap madrasah.

Selanjutnya dalam proses pembelajaran madrasah harus menerapkan manajemen pembiayaan pendidikan berbasis madrasah untuk mengadakan sarana dan prasarana yang mampu mengantarkan peserta didik menguasai pelajaran yang diberikan. Dan menerapkan kurikulum yang dapat mengembangkan potensi peserta didik yang memuat strategi akseleratif yang membuat peserta didik dapat memahami dengan cepat mata pelajaran yang diberikan. Serta mengadakan pendidik yang profesional yang mampu menguasai teknologi informasi dan mampu menghadapi peserta didik yang memiliki multiple intelegences sehingga mudah dalam menyampaikan pelajaran dan dapat dimengerti dengan baik oleh peserta didik.

Dengan sistem pengelolaan, kerjasama dan pengadaan penunjang pembelajaran yang baik yang diterapkan oleh madrasah, maka madrasah akan menghasilkan output yang memiliki keunggulan kepribadian, intelektual dan keterampilan yang mampu bersaing dengan baik di tengah era globalisasi di samping terwujudnya tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

  1. KESIMPULAN

Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi tumpuan masyarakat untuk kepentingan pendidikan anak-anak. Dalam proses globalisasi, keberadaan madrasah menghadapi transformasi yang di dalam prosesnya dihadapkan pada berbagai tantangan yang perlu dicari solusinya. Transformasi pemikiran manajemen tersebut adalah upaya untuk merekonstruksi fungsi ideal madrasah untuk tetap survive dan mampu tampil bermakna di tengah tuntutan terhadap pendidikan modern sebagai upaya untuk menguasai pengetahuan dan teknologi dan tetap berada pada lingkup penghayatan nilai-nilai agama.

Sebagai starting point dalam upaya membangun madrasah pada era globalisasi ini adalah mengupayakan untuk menset ulang pola pikir para pengambil kebijakan dan pengelola lembaga pendidikan tersebut, sehingga mampu meningkatkan citra dan gengsi madrasah dengan instrumen prestasi, mampu mengubah pola manajemen, dan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat sehingga merasa memiliki madrasah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Mohammad. 2009.  Pendidikan untuk Pembangunan Nasional, Menuju Bangsa Indonesia yang Mandiri dan Berdaya Saing Tinggi. Imtima, Bandung.

Mulyasa, E. 2009. Manajemen Berbasis Madrasah: Konsep, Strategi, dan Implementasi. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Tilaar, H.A.R. 2002. Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru. PT. Gramedia , Jakarta.

Qomar, Mujamil. Manajemen Pendidikan Islam. Jakarta: Erlangga, 2007

http://citraedukasi.blogspot.com/2007/12/implementasi-tqm-di-madrasah.html

http://www.geocities.com/agus_lecturer/manajemen/pengertian_manajemen.htm

http://www.kmpk.ugm.ac.id/data/SPMKK/4b-

http://ronawajah.wordpress.com/2008/03/30/mengapa-membutuhkan-sistem-manajemen-pengetahuan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: