RINGKASAN CARA PELAKSANAAN JENAZAH

Oleh: Amin Wahyu Handoko Elfatraniy

PADA SAAT SAKIT

  1. Orang yang sakit wajib menerima qadha (ketentuan) Allah, bersabar menghadapi serta berbaik sangka kepada Allah, semua ini baik baginya.
  2. Ia harus mempunyai perasaan takut serta harapan, yaitu takut akan siksaan Allah karena adanya dosa-dosa yang telah ia lakukan, serta harapan akan rahmat Allah.
  3. Bagaimana parahnya penyakitnya, ia tidak boleh mengangan-angan kematian, kalaupun terpaksa, maka hendaknya ia berdoa : -Allahumma ahyanii maa kanati al-hayatu khairan lii wa tawaffaniy idzaa kanati al-wafaatu khairan lii- “Artinya : Ya Allah hidupkanlah akau jika kehidupan lebih baik bagiku, matiknalah aku jika kematian lebih baik bagiku”
  4. Jika ia mempunyai kewajiban yang menyangkut hak orang lain, hendaknya menyelesaikan secepat mungkin. Jika tidak mampu, hendaknya berwasiat untuk penyelesaiannya.
  5. Ia harus bersegera berwasiat

APA YANG HARUS KAMI LAKUKAN TERHADAP SESEORANG YANG SEDANG SEKARAT?

  1. Jiaka ada seorang muslim yang sakit, maka sangat dianjurkan bagi para kerabat dan seseorang yang paling dekat dengannya untuk hadir disitu. Agar bisa melaksanakan hal yang sisyariatkan kepada mereka terhadap orang sekarat ini.(memejamkan kedua matanya, mentalqin, menutupi jasadnya dan lain-lain.)
  2. Menghadapkannya kearah kiblat. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah ra.ia berkata

وجهوني الي القبلة

Hadapkan saya kearah kiblat.(ibnu qudamah dalam al-mughni)

Paara ahli fiqih dari seluruh madzhab membernarkan perbuatan ini. Diantara dalilnya adalah

وَاسْتِحْلَالُ الْبَيْتِ الْحَرَامِ قِبْلَتِكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا

Dan termasuk dosa besar adalah menghalalkan baitul haram. Padahal ia adalah kiblat kalian, hidup dan mati.(HR.Abu Dawud dan An-Nasa’i. Albani menghasannya)

Menghalalkan maksudnya berbuat maksiat, membunuh, mengambil barang temuan, mencabut pohon dam memburu hewan.

  1. Memejamkan matanya.

Dari syadad bin Aus ra. Bahwa Rosulullah saw bersabda:

إِذَا حَضَرْتُمْ مَوْتَاكُمْ فَأَغْمِضُوا الْبَصَرَ فَإِنَّ الْبَصَرَ يَتْبَعُ الرُّوحَ وَقُولُوا خَيْرًا فَإِنَّهُ يُؤَمَّنُ عَلَى مَا قَالَ أَهْلُ الْمَيِّتِ

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika kalian mendatangi orang yang sekarat di antara kalian, maka tutuplah matanya. Sesungguhnya penglihatan itu mengikuti ruh dan katakanlah perkataan yang baik-baik, sebab perkataan yang diucapkan keluarga mayat itu akan diamini oleh malaikat.”(HR.Ahmad)

  1. Di anjurkan kepada keluarga sicalon mayit untuk mentalqin (mengajarinya) kalimat syahadat

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Dari  Abu Sa’id Al Khudri berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tuntunlah orang yang sedang berada di penghujung ajalnya agar membaca (kalimat), ‘LAA ILAAHA ILLALLAH.'”(HR.Muslim)

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Mu’adz bin Jabal, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia) ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH” maka ia akan masuk surga.”(HR.Abu Dawud dan Hakim, Al-Hakim menshohihkannya)

 

BAGAIMANA CARA MENTALQINNYA?

  1. 1.      Ucapkan لا اله إلا الله
  2. 2.      Jika setelah mengucapkan syahadat ternyata berbicara dengan hal-hal lain yang bukan kalimat syahadat, maka wajib bagi orang yang hadir pada saat itu untuk mentalqin kembali.
  3. 3.      Hendaknya orang yang mentalqin tidak menysahkan orang yang sedang sekarat. Dalam artian, ia mengajarinya syahadat dengan lemah lembut dan pelan-pelan agar tidak bosan.

MULAI KAPAN MENTALQIL DENGAN KALIMAT SYAHADAT?

Ketika tanda-tanda kematian sudah tampak padanya atau kematian sudah bener-bener dekat. Maka segera di talqin dan dipastikan bisa mengucapkan syahadat biar masuk surga.

APAKAH DISYARIATKAN MENGAJARKAN KALIMAT LAIN SELAIN KALIMAT SYAHADAT.?

  1. Tidak. tidak ada riwayat yang menerangkan untuk mengajarkan dengan kalimat lain selain syahadat bagi calon mayit maupun orang yang menyaksikannya.
  2. Tetapi jika mengingatkannya dengan hal-hal yang membuat dia menjadi ber-Husnudzan kepada Allah, maka diperbolehkan. Sebagai mana tindakan sahabat Abdullah bin Amru bin Ash.

APAKAH KITA DISYARIATKAN MENTALQIN ANAK KECIL YANG SKARAT.

  1. 1.      Pada dasarnya talqin disyariatkan pada orang mukallaf (yang sudah baligh), yang dosa dan kesalahan mereka sudah dicatat. Bukan pada anak kecil atau orang gila.
  2. 2.      Meskipun demikian, tetap disyari’atkan kepada kita, untuk mentalqin anak kecil yang bisa berfikir, serta mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

BOLEHKAN BAGI KAUM MUSLIMIN UNTUK MENGHADIRI DAN MENTALQIN ORANG KAFIR YANG SEKARAT?

  1. 1.      Tidak mengapa menghadiri orang kafir yang sekarat, mengajaknya masuk islam, member dorongan untuk masuk islam pada akhir hayatnya.
  2. 2.      Karena pada saat itu, ia sudah melihat tanda-tanda kematian dengan jelas. Dan bisa jadi yang menahannya untuk masuk islam sebelumnya adalah rasa dengki, persaingan, takut kehilangan jabatan atau kawatir kehilangan kepemimpinan. Yang iru semua akan musnah dengan kematian.
  3. 3.      Rosul pernah menghadiri seorang pemuda yahudi yang sedang sekarat. Pemuda itu penah jadi pelayan Nabi. Maka Nabi mengajaknya masuk islam. Ayah sang pemuda yahudi itu berkata, “Turutilah permintaan Abul Qasim SAW.” Akhirnya Rasulullah keluar rumah sambil berkata.

الحمد لله الذي هداه للإسلام

Segala puji bagi Allah yang telah memberinya hidayah dengan masuk islam.(HR.Bukhori)

  1. Adapun orang yang dikenal sangat menentang islam, bersikeras atas kekafirannya, tidak ada cara lain untuk membujuknya, dan dakwah islam tidak berguna terhadapnya. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menghadiri saat-saat sekaratnya, dan secara umum tak ada faedah dalam mentalqinnya.

YANG BOLEH DILAKUKAN PARA KERABATNYA DAN ORANG LAIN

  1. Boleh membuka wajah mayyit dan menciumnya, menangisi -tanpa ratapan- dalam kurung tiga hari.
  2. Tatkala berita kematian sampai kepada kerabat mayyitmereka harus :
    1. Bersabar serta redha akan ketentuan Allah.
    2. Beristirjaa’ yaitu membaca : – Inna Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun- “Artinya : Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kita akan kembal”
    3. Tidaklah menyalahi kesabaran jika ada wanita yang tidak berhias sama sekali asal tidak melebihi tiga hari setelah meninggalnya ayahnya atau selain ayahnya. Kecuali jika yang meninggal adalah suaminya, maka ia tidak berhias selama empat bulan sepuluh hari, karena hal ini ada dalilnya.
    4. Jika yang meninggal selain suaminya, maka lebih afdhal jika tidak meninggalkan perhiasannya untuk meredlakan/menyenangkan suaminya serta memuaskannya.Dan diharapkan adanya kebaikan di balik itu. Ringkasan Cara Penyelenggaraan Jenazah

HAL-HAL YANG TERLARANG

Rasulullah telah melarang/mengharamkan hal yang selalu dilakukan oleh banyak orang disaat ada yang meninggal, hal-hal yang dilarang tersebut wajib diketahui untuk dihindari, di antaranya :

  1. Meratap, yaitu menangis berlebih-lebihan, berteriak, memukul wajah, merobek-robek kantong pakaian dan lain-lain.
  2. Mengacak-acak rambut
  3. Laki-laki memperpanjang kumis selama beberapa hari sebagai selama beberapa hari sebagai tanda duka atas kematian seseorang. Jika duka sudah berlalu maka mereka kembali mencukur jenggot lagi.
  4. Mengumumkan kematian lewat menara-menara atau tempat lain, karena cara mengumumkan yang seperti itu terlarang.

CARA MENGUMUMKAN KEMATIAN YANG DIBOLEHKAN

  1. Boleh menyampaikan berita kematian tanpa menempuh cara-cara yang diamalkan pada zaman jahiliyah dahulu. Bahkan terkadang menyampaikan berita kematian hukumnya menjadi wajib jika tidak ada yang memandikannya, mengkafani, menshalati dan lain-lain.
  2. Bagi yang menyampaikan berita kematian dibolehkan meminta kepada orang lain supaya mendo’akan mayyit, karena hal ini ada landasannya di dalam sunnah.

PUJIAN ORANG TERHADAP MAYYIT

  1. Pujian baik terjadap mayyit dari sekelompok orang-orang muslim yang benar-benar, paling kurang dua orang di antara tetangga-tetangganya yang arif, shalih dan berilmu dapat menjadi penyebab masuknya mayyit ke dalam surga.
  2. Jika kematian seseorang bertetapan dengan gerhana matahari atau bulan, maka hal itu tidak menunjukkan sesuatu. Sedangkan anggapan bahwa hal itu merupakan tanda-tanda kemuliaan si mayyit adalah khurafat jahiliyah yang bathil

MEMADIKAN JENAZAH

 

  1. Memandikan jenazah adalah fardhu kifayah
  2. Orang yang paling utama adalah orang yang sudah diwasiati oleh si mayit, setelah itu kerabatnya yang terdekat, kemudian yang masih ada hubungan rahim dengannya.
  3. Seorang laki-laki boleh memandikan istrinya dan sebaliknya. Wanita juga boleh memandikan anak kecil lelaki yang belum berumur tujuh tahun dan sebaliknya.
  4. Tetapi seorang wanita tidak boleh memandikan lelaki, meski ia mahramnya sendiri. Dan lelaki tidak boleh memandikan wanita, meski wanita itu adalah ibu atau putrinya, ia hanya boleh mentayamumi mereka dengan debu.
  5. Seorang muslim tidak boleh memandikan orang kafir, dan tidak pula mempersiapkan apapun dalam kematinnya. Dia hanya boleh menimbunnya ke dalam tanah jika tidak ada seorang  kafirpun yang menguburnya.
  6. Orang yang memandikan jenazah haruslah orang yang amanah. Tidak menceritakan aib atau cacat si mayit.

PROSES  MEMANDIKAN JENAZAH

  1. Jenazah harus ditutupi auratnya jika berumur lebih dari tujuh tahun. Yang ditutupi adalah daerah antara pusar hingga lutut.
  2. Melepaskan seluruh bajunya, dan menutupinya dari pandangan orang lain. Jenazah diletakkan di dalam rumah yang beratap atau jika memungkinkan jenazah tersebut dimandikan di dalam tenda.
  3. Kemudian wajah mayit di tutup, tidak boleh ada orang lain hadir dalam pemandian selain seseorang yang membantu dalam proses pemandian.
  4. Disini niat adalah syarat. Sedangkan mengucapkan basmalah adalah suatu kewajiban.
  5. Mengangkat kepalanya hingga mendekati duduk, memijit perutnya pelan-pelan. Pada saat ini banyak-banyak menyiramkan air, juga perlu memberi pengharum ruangan jika dikawatirkan ada sesuatu yang keluar dari perutnya.
  6. Lalu membelitkan kain ke tangan untuk membersihkan jenazah dan menggosok-gosok kedua kemaluannya. Tidak boleh menyentuh aurat jenazah yang sudah berumur tujuh tahun keatas kecuali dengan penghalang. Dan lebih utama jika tidak menyentuh seluruh anggota tubuh lainnya kecuali dengan sarung tangan atau kain yang dibelitkan ke tangan.
  7. Membelitkan sepotong kain pada kedua jari untuk membersihkan gigi-gigi dan kedua lubang hidungnya, tanpa memasukkan air kedalam mulut atau hidung. Kemudian membasuhi anggota wudhunya.
  8. Menyiapkan air yang bercampur daun bidara atau bercampur sabun pembersih. Lalu membersihkan kepala serta jenggotnya dengan busa air tersebut. Dan membasuh sekujur tubuhnya dengan sisa air tadi.
  9. Kemudian membasuh bagian samping kanan, lalu samping yang kiri. Di mulai dari kulit lehernya kemudian bahu hingga akhir telapak kakinya.
  10. Lalu membalikkannya sembari membasuh tubuhnya. Mengangkat sisi bagian kanannya sambil membasuh punggung dan pantatnya. Lalu membasuh sisi bagian kiri juga seperti itu. Tidak boleh menelungkupkan jenazah diatas wajahnya. Setelah itu kita menyiramkan air kesekujur tubuhnya.
  11. Sedangkan yang sunnah adalah mengulang tiga kali cara mandi seperti ini, memulai yang kanan dari setiap sisi tubuhnya dan terus mengurutkan tangan pada perutnya pada setiap pemandian.
  12. Jika tiga kali pengurutan belum juga membersihkan perut, maka kita tambah hingga perut itu benar-benar bersih, meski hal itu kita lakukan hingga tujuh kali. Dan disunnahkan menghentikan pengurutan ini pada bilangan yang janjil.
  13. Saat memandikan, menggunakan air panas adalah sangat dimakruhkan. Demikian pula dengan membersihkan sela-sela gigi dan menggunakan air dingin, kecuali saat diperlukan.
  14. Jika wanita, maka mengelabang rambutnya menjadi tiga kali dan diletakkan pada bagian belakang kepalanya.
  15. Pada pemandian yang terakhir, mencampur airnya dengan kapur barus atau daun bidara. Kecuali jika jenazah dalam keadaan ihram dengan haji atau umrah, maka hal tersebut tidak perlu dilakukan.
  16. Lalu cukur kumisnya, dan di potong kukunya jika panjang-panjang. Kemudian di handuki.
  17. Jika masih keluar sesuatu dari perut, padahal sudah mengurut perutnya sebanyak tujuh kali, maka tempat keluar kotoran itu di tutup dengan kapas. Jika kapas tidak mempan, maka menggunakan tanah yang panas. Setelah itu tempat keluarnya kotoran dibersihkan dan di wudhui lagi jenazahnya.
  18. Jika jenazah adalah seorang yang sedang ihram, maka memandikannya tanpa minyak wangi dan tanpa harum-haruman. Tubuhnya dibersihkan dengan sabun dan daun bidara jika perlu saja. Dan kepalanya tetap dibiarkan terbuka.
  19. Anak yang gugur (lahir dalam keadaan mati) jika sudah berumur empat bulan, juga orang yang sulit dimandikan seperti yang mati kebakar dan yang hancur lebur, maka ia hanya ditayamumi. Sedang orang yang memandikan, ia wajib menutupi bagian tubuhnya yang buruk.

MENGAFANI MAYAT

  1. Setelah selesai memandikan mayat, maka wajib dikafani (sunnah muakkadah)

كفنوه في ثوبيه

Kafanilah ia dengan dua bajunya

  1. Kain kafan serta biayanya diambil dari harta si mayyit sendiri, meskipun hartanya sampai habis, tidak ada yang tertinggal lagi. Sebelum menggunakan untuk melunasi hutang dan tanggungannya yang lain. Jika si mayit tidak memiliki harta, maka di ambilkan dari orang yang wajib menafkahinya. Yaitu para leluhurnya atau anak keturunanya, seperti bapaknya, kakeknya, anaknya, atau cucunya. Jika ia tidak memiliki seluruh jalur kekerabatan iitu, kewajiban jatuh kepada baitul mal. Dan jka tidak ada juga, maka kewajiban itu beralih kepada siapa saja kaum muslimin yang mengetahui keadaannya semasa hidup.
  2. Seharusnya kain kafan menutupi semua anggota tubuhnya
  3. Jika seandainya kain kafan tidak mencukupi semua tubuhnya, maka diutamakan menutupi kepalanya sampai ke sebagian tubuhnya, adapun yang masih terbuka maka ditutupi dengan daun-daunan yang wangi. (Hal yang seperti ini jarang terjadi pada zaman kita sekarang ini, tetapi ini adalah hukum syar’i)
  4.  Jika kain kafan kurang, sementara jumlah mayat banyak, maka boleh mengkafani mereka secara massal dalam satu kafan, yaitu dengan cara membagi-bagi jumlah tertentu di kalangan mereka dengan mendahulukan orang-orang yang lebih banyak mengetahui dan menghafal Al-Qur’an ke arah kiblat
  5. Tidak boleh membuka pakaian orang yang mati syahid yang dipakainya sewaktu mati, ia dikuburkan dengan pakaian yang dipakai syahid.
  6. Dianjurkan mengkafani orang yang mati syahid dengan selembar kain kafan atau lebih di atas pakaian yang sedang di pakai.
  7. Orang yang mati dalam keadaan ber-ihram dikafani dengan kedua pakaian ihram yang sedang dipakainya, tidak diberi wewangian, dan kepalanya tidak ditutup, agar ia tetap dalam keadaan ihram. Karena Rasulullah bersabda tentang orang yang jatuh dari hewan kendaraannya pada hari Arafah kemudian meninggal dunia. “ Mandikanlah dia dengan air dan kapur barus, kafani dengan kesua pakaiannya, jangan beri wewangian, dan jagan tutup kepalanya, karena ia dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah.” (HR. Mutafaqun Alaih)
  8.  Hal-hal yang dianjurkan dalam pemakaian kain kafan :
    1. Warna putih
    2. Menyiapkan tiga lembar
    3. Satu diantaranya bergaris-garis (Ini tidak bertentangan dengan bagian karena dua hal
    4. Pada umumnya kain putih bergaris-garis putih,
    5. Di antara ketiga lembar kafan tadi, satu yang bergaris-garis sedangkan yang lainnya putih

Memberikan wangi-wangian tiga kali.

  1.  Kain kafan untuk mayit laki-laki terdiri dari tiga lembar dan mayit wanita dengan lima lembar kain kafan; sarung untuk menutupi aurat bagian bawah badan, kerudung untuk menutup kepala, dan baju gamis yang dilobangi tengahnya untuk memasukkan kepala dari lobang tersebut, kemudian dua lembar kain yang ukurannya seperti kain kafan mayit lelaki.
  2.  Tidak boleh berfoya-foya dalam pemakain kain kafan, dan tidak boleh lebih dari tiga lembar, karena hal itu menyalahi cara kafan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan terlebih lagi perbuatan itu dianggap menyia-nyiakan harta
  3. Kafan dari sutra

Mayit laki-laki haram dikafani kain sutra. Adapun mayit muslimah, kendati ia dihalalkan memakai kain sutra, namun dimakruhkan dikafani dengan kain sutra. Karena sikap berlebih-lebihan yang dilarang oleh syari’at.

لا تغالوا باالكفن فإنه يسلب سريعا

Janganlah kalian bermahal-mahal dalam kain kafan, karena kain kafan tersebut cept dicabut (rusak). (HR.Abu Dawud)

Abu Bakar berkata: “Sesungguhnya orang hidup lebih berhak dengan pakaian baru daripada mayit. Sesungguhnya kain kafan ialah untuk air munah dan nanah yang keluar dari mayit.”(HR. Al-Bukhori)

BACAAN SHALAT JENAZAH

Takbir pertama:

Al-fatihah

Takbir kedua:

Shalawat atas Nabi Muhammad

Takbir ketiga: Do’a

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA ‘AAFIHI WA’FU ‘ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI’ MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARADI WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A’IDZHU MIN ‘ADZAABIL QABRI AU MIN ‘ADZAABIN NAAR

(Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnyak, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).”(HR.Bukhori)

Takbir keempat: Do’a

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ

ALLAAHUMMAGHFIR LIHAYYINAA WA MAYYITINA, WA SHAGHIIRINAA WA KABIIRINAA WA DZAKARINAA WA UNTSAANAA, WA SYAHIDINAA WA GHAAIBINAA. ALLAAHUMMA, MAN AHYAITAHU MINNAA FA AHYIHI ‘ALAL IIMAAN WA MAN TAWAFFAITAHU MINNAA FATAWAFFAHU ‘ALAL ISLAAM. ALLAHUMMA LAA TAHRIMAN AJRAHU WA LAA TUDHILLANAA BA’DAHU (ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup diantara kami, dan yang telah mati, anak kecil dan yang dewasa kami, laki-laki kami dan wanita kami, orang-orang yang hadir diantara kami dan yang tidak hadir. Ya Allah, siapapun diantara kami yang Engkau hidupkan maka hidupkanlah di atas keimanan dan siapapun diantara kami yang Engkau wafatkan maka wafatkanlah dalam keadaan beragama Islam, ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari mendapatkan pahalanya dan janganlah Engkau sesatkan kami setelah kematiannya!”(HR.Abu Dawud)

MEMBAWA JENAZAH SERTA MENGANTARNYA

  1. Wajib membawa jenazah dan mengantarnya, karena hal itu adalah hak seorang muslim yang mati terhadap kaum muslimin yang lain.
  2. Mengikuti jenazah ada dua tahap :

–          Mengikuti dari keluarganya sampai dishalati.

–          Mengikuti dari keluarganya sampai selesai penguburannya, dan inilah yang lebih utama

  1. Mengikuti jenazah hanya dibolehkan bagi laki-laki, tidak dibolehkan bagi wanita, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang wanita mengikuti jenazah
  2. Tidak dibolehkan mengikuti jenazah dengan cara-cara sambil menangis, begitu pula membawa wangi-wangian dan sebagainya. (Termasuk dalam kategori ini amalan orang awam sambil membaca : “Wahhiduul -Ilaaha” atau jenis dzikir-dzikir lainnya yang dibuat-buat)
  3. Harus cepat-cepat dalam membawa jenazah dalam arti tidak berlari-lari
  4. Boleh berjalan di depan jenazah, di belakangnya (ini yang lebih afdhal), boleh juga di samping kanannya atau kirinya dengan posisi dekat dengan jenazah, kecuali yang berkendaraan maka mengikuti dari belakang. (Perlu diketahui bahwa berjalan lebih afdhal dari pada berkendaraan)
  5. Boleh pulang berkendaraan setelah menguburkan mayat, tidak makruh
  6. Adapun membawa jenazah di atas kereta khusus atau mobil ambulance, kemudian orang-orang yang mengantarnya juga memakai mobil, maka hal ini termasuk tidak disyari’atkan, karena ini adalah kebiasaan orang-orang kafir, serta menghilangkan nilai-nilai yang terkandung dalam pengantaran jenazah yaitu mengingat-ingat akhirat, lebih-lebih lagi karena hal itu menjadi penyebab terkuat berkurangnya pengantar jenazah dan hilang kesempatan orang-orang yang ingin mendapatkan pahala. (Kecuali dalam keadaan darurat maka boleh memakai mobil)
  7. Berdiri untuk menghormati jenazah hukumnya mansukh (dihapuskan), oleh karena itu tidak boleh lagi diamalkan.
  8. Dianjurkan bagi yang membawa jenazah supaya berwudhu, tapi ini tidak wajib

MENGUBURKAN MAYYIT

  1. Wajib menguburkan mayyit, meskipun kafir
  2. Tidak boleh menguburkan seorang muslim dengan seorang kafir, begitu pula sebaliknya, harus di pekuburan masing-masing
  3. Menurut sunnah Rasul, menguburkan di tempat penguburan, kecuali orangorang yang mati syahid mereka dikuburkan di lokasi mereka gugur tidak dipindahkan ke penguburan. (Hal ini memuat bantahan terhadap sebagian orang yang mewasiatkan supaya dikuburkan di masjid atau di makam khusus atau di tempat lainnya yang sebenarnya tidak boleh di dalam syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala)
  4. Tidak boleh menguburkan pada waktu-waktu terlarang (Lihat Bagian XII No 27) atau pada waktu malam, kecuali karena dalam keadaan darurat, meskipun dengan cara memakai lampu dan turun di lubang kubur untuk memudahkan pelaksanaan penguburan.
  5. Wajib memperdalam lubang kubur, memperluas serta memperbaiki
  6. Penataan kubur tempat mayat ada dua cara yang dibolehkan :

Lahad : yaitu melubangi liang kubur ke arah kiblat (ini yang afdhal)

Syaq : Melubangi ke bawah di pertengahan liang kubur

  1. Dalam kondisi darurat boleh menguburkan dalam satu lubang dua mayat atau lebih, dan yang lebih didahulukan adalah yang lebih afdhal di antara mereka.
  2. Yang menurunkan mayat adalah kaum laki-laki (meskipun mayatnya perempuan)
  3. Para wali-wali si mayyit lebih berhak menurunkannya
  4. Boleh seorang suami mengerjakan sendiri penguburan istrinya
  5. Dipersyaratkan bagi yang menguburkan wanita; yang semalam itu tidak menyetubuhi isterinya.
  6. Menurut sunnah: memasukkan mayat dari arah belakang liang kubur
  7. Meletakkan mayat di atas sebelah kanannya, wajahnya menghadap kiblat, kepala dan kedua kakinya melentang ke kanan dan kekiri kiblat
  8. Orang yang meletakkan mayat di kubur membaca : “bismillahi wa’alaa sunnati rasuulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallama” -Artinya: ‘(Aku meletakkannya) dengan nama Allah dan menurut sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” atau : “bismillahi wa ‘alaa millati rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallama” – Artinya: “(Aku meletakkan) dengan nama Allah dan menurut millah (agama) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
  9. Setelah menimbun kubur disunnahkan hal-hal berikut :

Meninggikan kubur sekitar sejengkal dari permukaan tanah, tidak diratakan, supaya dapat dikenal dan dipelihara serta tidak dihinakan

Meninggikan hanya dengan batas yang tersebut tadi

Memberi tanda dengan batu atau selain batu supaya dikenali

Berdiri di kubur sambil mendoakan dan memerintahkan kepada yang hadir supaya mendoakan dan memohonkan ampunan juga. (Inilah yang tersebutkan di dalam sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun talqin yang banyak dilakukan oleh orang-orang awam pada zaman ini maka hal itu tidak ada dalil landasannya di dalam sunnah)

  1. Boleh duduk saat pemakaman dengan maksud memberi peringatan orangorang yang hadir akan kematian serta alam setelah kematian. (Hadits Al- Barra bin ‘Aazib).
  2. Menggali kuburan sebagai persiapan sebelum mati, yang dilakukan oleh sebagian orang adalah perbuatan yang tidak dianjurkan dalam syari’at, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal itu, para sahabat beliaupun tidak melakukannya. Seorang hamba tidak mengetahui di mana ia akan mati. Jika ia melakukan hal itu dengan dalih supaya bersiap-siap mati atau untuk mengingat kematian maka itu dapat dilakukan denga cara memperbanyak amalan shaleh, berziarah ke kubur, bukan dengan cara melakukan hal-hal yang hanya dibikin-bikin oleh orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: