Tafsir surat al-fatihah ayat keenam

Makna Ayat Keenam
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
Artinya: “Tunjukilah Kami jalan yang lurus.”

Kata اهد , dilihat dari bentuknya, adalah bentuk kata kerja perintah (fi’l amr). Kata ini berasal dari kata kerja هدى (bentuk lampai=madhi) dan يهدي (bentuk sekarang=mudhari’), yang berarti “menunjukkan, menunjuki, dan menuntun”. Kata kerja inilah yang membentuk kata dasar هداية , yang berarti “petunjuk, tuntunan”.
Kata الصراطberarti “jalan”.
Sedangkan kata المستقيم berarti “sesuatu yang tidak bengkok dan tidak berbelok-belok”. Kata ini berasal dari kata تقامة اس (istiqamah), yaitu berpegang teguh pada pendirian dan sikap yang benar. Ungkapan الصراط المستقيم mengandung permohonan agar Allah memberikan ketetapan untuk beriman kepada-Nya, memberikan taufiq untuk beramal salih, dan menjadikan kita berjalan di atas jalan Islam, yang mengantarkan kita untuk sampai ke surga Jannatun Na’im.

PENAFSIRAN
Kata اهدنا menunjuk kepada pengertian ‘doa’ yang mengandung permohonan agar Allah menunjuki kita jalan yang lurus, menunjukkan kita kepada jalannya, dan memperlihatkan kepada kita jalan menunju petunjuk-Nya yang membawa kita sehingga kami dekat kepada-Nya. Dari sini muncul kata هداية. Kata ini menunjuk kepada pengertian “petunjuk, tuntunan”.
Di dalam surat Al-Fatihah kita memohon kepada Allah agar diberi petunjuk (hidayah). Hidayah adalah sesuatu yang amat penting dalam kehidupan dan dengan hidayah seseorang diberi petunjuk untuk menunju ke jalan yang benar dan dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Lawan dari hidayah ialah dalal (kesesatan). Dalam kaitan dengan ini manusia dapat dibagi atas dua bahagian, yaitu manusia yang berada dalam hidayah dan manusia yang berada di dalam kesesatan. Manusia dalam kesesatan selalu menyimpang dari jalan yang benar, dan bahkan menentang jalan jalan yang benar itu.
Menurut Wahbah az-Zuhaili, seorang ulama fikih dan tafsir berkebangsaan Syaria, Allah telah memberikan kepada manusia 5 macam hidayah:
1. Hidayah ilham fitri, yaitu hidayah yang diberikan oleh Allah kepada seorang anak sejak lahirnya sehingga ia dapat merasakan kebutuhannya akan makanan dan minuman. Karena itulah, seorang anak akan berteriak meminta makanan dan minuman atau isyarat untuk itu, jika orang tuanya melupakannya.
2. Hidayah indera, yaitu hidayah yang merupakan penyemurnaan dari hidayah yang pertama. Kedua hidayah ini pada hakikatnya terdapat pada manusia dan hewan. Hanya saja, hidayah pada hewan lebih sejak awal dan sempurna dengan sendirinya segera setelah kelahirannya, sedangkan hidayah indera ini pada manusia mengalami kesempurnaan secara berangsur-angsur.
3. Hidayah akal, yaitu hidayah yang lebih tinggi dari dua hidayah sebelumnya. Manusia diciptakan oleh Allah dengan kemampuan untuk mengadakan adaptasi dengan orang lain, dan tidak hanya cukup dengan panca indera yang ada untuk melakukan hubungan dengan pihak lain. Untuk itu, manusia harus diberi akal yang dapat mengarahkan dia untuk menempuh kehidupan ini, dan dapat menyelamatkan dia kesalahan dan kekeliruan, dan dapat melakukan koreksi terhadap kesalahan yang dilakukan oleh pancaindera.
4. Hidayah agama, yaitu hidayah yang yang tidak mungkin salah karena bersumber dari sesuatu yang benar. Akal boleh jadi memberi tuntunan yang salah, sedangkan agama tidak mungkin memberi tuntunan yang salah. Akal dapat dipengaruhi oleh hawa nafsu, sedangkan agama dapat mengatasi hawa nafsu dan mengarahkan kepada jalan yang benar. Karena itu, akal menjadi penuntun, kompas, dan pemandu yang tidak dapat dipengaruhi oleh hawa nafsu.
5. Hidayah mau’nah dan taufik, yaitu hidayah yang diberikan kepada seseorang agar tetap berada jalan kebaikan dan keselamatan. Hidayah ini lebih khusus daripada hidayah agama dan hidayah ini yang sebenarnya yang kita minta ketika kita membaca ayat اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ di dalam surat Al-Fatihah itu.
Dari sini dapat diketahui bahwa hidayah itu dapat dibagi atas dua macam, yaitu 1) hidayah umum, dan 2( hidayah khusus. Hidayah umum yaitu hidayah yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk mencapai kemaslhatan hidupnya. Hidayah ini mencakup hidayah yang empat di atas. Hidayah khusus yaitu hidayah yang kelima.
Makna Jalan yang lurus
1. menurut sebagian sahabat dan ulama bermakna kitabullah atau al-Qur’an. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “الصِرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ كِتَابُ اللهِ”
Shiratal mustaqim adalah Kitabullah
2. Menurut pendapat lain, shiratal mustaqim adalah agama Islam, berdasarkan hadits yang diriwayatkan sahabat Ibnu Abbas, bahwa malakat Jibril pernah berkata kepada nabi Muhammad saw, “Hai Muhammad, katakanlah: Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Makna yang dimaksud ialah “berilah kami ilham jalan petunjuk, yaitu agama Allah yang tiada kebengkokan di dalamnya”.
Syaikh Ibnul Hanafiyyah mengatakan yang dimaksud Ihdinas shiratal mustaqim adalah “agama Islam yang merupakan satu-satunya agama yang diridlai oleh Allah swt buat hamba-Nya”. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya menyatakan Rasulullah saw bersabda:
“ضَرَبَ اللهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ سُوْرَانِ فِيْهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُوْرٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُوْلُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، ُادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيْعًا وَلَا تَعُوْجُوْا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَاِبِ، قَال: وَيْحَكَ، لَا تَفْتَحْهُ؛ فَإِنَّكَ إِن تَفْتَحُهُ تَلِجْهُ. فَالصِّرَاطُ الإِسْلَامُ، وَالسُّوْرَانِ حُدُوْدُ اللهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللهِ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ”
Allah membuat suatu perumpamaan, yaitu sebuah jembatan yang lurus; pada kedua sisinya terdapat dua tembok yang mempunyai pintu-pintu terbuka, tetapi pintu-pintu tersebut terdapat tirai yang menutupinya, sedangkan pada pintu masuk ke jembatan itu terdapat penyeru yang menyerukan, “Hai manusia, masuklah kalian semua ke jembatan ini dan janganlah kalian menyimpang darinya.” Dan diatas jembatan terdapat pula seorang penyeru; apabila ada seorang yang hendak membuka salah satu dari pintu-pintu (yang berada di kedua jembatan) itu, maka penyeru itu berkata, “Celakalah kamu, janganlah kamu buka pintu itu, karena sesungguhnya jika kamu buka niscaya kamu masuk ke dalamny.” Jembatan itu adalah agama Islam, kedua tembok itu adalah batasan-batasan (hukum-hukum/had) Allah, pintu-pintu yang terbuka itu adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah, sedangkan juru penyeru yang berada di depan pintu jembatan adalah kitabullah, dan juru penyeru yang berada diatas jembatan itu adalah nasehat Allah yang berada dalam kalbu/hati setiap orang muslim. (H.R. Imam Ahmad)
3. menurut imam mujahid seorang tabi’in yang menjadi panutan para ahli tafsir mengatakan, Tunjukilah kami jalan yang lurus, adalah perkara yang hak. Makna ini lebih mencakup semuanya (yakni kitabullah dan agama Islam) dan tidak ada pertentangan antara pendapat ini dengan pendapat-pendapat lain yang sebelumnya
4. Bahkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Jarir Tunjukilah kami jalan yang benar; yang dimaksud jalan yang benar adalah Nabi Muhammad saw dan kedua sahabat yang menjadi khalifah sesudahnya (yaitu Abu Bakar dan Umar r.a).
Menurut al-Hafidz Ibnu Katsir bahwa semua pendapat diatas adalah benar, satu sama lainnya saling memperkuat, karena barang siapa yang mengikuti nabi Muhammad saw dan kedua sahabatnya (yakni Abu bakar dan Umar r.a), berarti ia mengikuti jalan yang hak (benar); dan barang siapa yang mengikuti jalan yang benar, berarti ia mengikuti jalan Islam. Barangsiapa mengikuti jalan Islam, berarti mengikuti al-Qur’an, yaitu Kitabullah atau tali Allah yang kuat dan jalan yang lurus. Semua pendapat benar dan masing-masing saling membenarkan yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: