KUKUMAN ATAS DOSA TERANG-TERANGAN (khutbah Idul Fitri)

Oleh: Amin Wahyu elfatraniy

Jama’ah sholat Ied rahimakumullah

Ramadhan telah berlalu. Upaya kita untuk memakmurkan ramadhan juga telah kita tempuh. Tentu dengan capaian kualitas maupun kuantitas amal yang bervariasi antara satu dengan yang lain. Yang jelas. Allah telah memberi  kemudahan yang banyak, memberi  pahala berlipat, dan menyingkirkan berbagai kendala utama manusia untuk melakukan amal shalih. Betapa kita saksikan kaum muslimin antusias dalam menjalankan shaum, shalat, mambaca Al-Qur’an dan sedekah. Maksiat turun secara drastis dibanding bulan-bulan sebelumnya, sungguh Ramadhan adalah anugrah yang harus kita syukuri.

Allahu Akbar 3x

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Di sisi lain, kita juga perlu waspada. Hal yang selalu membuat kita prihatin, namun selalu terulang dari tahun ke tahun, masjid kembali sepi pasca Ramadhan, lantunan al-Qur’an nyaris tak terdengar lagi, dan berganti dengan ramainya tempat maksiat, pesta pora dan nyanyian-nyanyian yang melenakan jiwa. Para pengumbar nafsu seakan srigala yang dilepas dari kandangnya, lalu menemukan mangsa yang membangkitkan seleranya, pegelaran maksiat kembali dipertontonkan di keramaian, rasa malupun kembali ditanggalkan. Na’udzubillahi min dzalik. Kita tidak tahu, masihkah TV kita kembali menyiarkan tayangan-tayangan yang mengandung unsur haram ataukah justru justru menjadi liar dan sekedar mengikuti selera pasar. Yang lebih tragis, ketika kemaksiatan dihadirkan dalam bentuk lelucon, sehingga kepekaan masyarakat terhadap dosa dan kemungkaran menjadi tumpul. Ambil contoh, tayangan yang menampilkan laki-laki yang berlagak atau berperangai layaknya perempuan. Seakan ini menjadi jurus unggulan dalam tayangan komedi dan lawakan. Belumkah kita dengan hadits Nabi saw.

عن ابن عباس قال لعن رسول الله صلى الله عليه وسلّم المتشبّهات بالرجال من النساء و المتشبّهين بالنّساء من الرجال.

Dari Ibnu Abbas ra, berkata, “Rasulullah saw melaknat laki-laki yang berlagak seperti wanita dan wanita yang berlagak seperti  laki-laki.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hadits ini hasan)

Bagaimana kemungkaran seperti  ini naik derajatnya menjadi hiburan yang dipertontonkan dihadapan semua kalangan?

Belum lagi tradisi pacaran yang masih menjadi tema unggulan sinetron-sinetron dan film. Bahkan yang terang-terangan mempublikasikan kumpul kebo dan hubungan sesama jenis. Yang seperti ini, seringkali dipertontonkan di hadapan masyarakat dari semua kalangan. La haula walaa quwwata illa billah.

Jama’ah iedul fitri rahimakumullah

Tidak sama kemaksiatan yang dilakukan tatkala sembunyi-sembunyi, dengan kemaksiatan yang dipertontonkan di hadapan keramaian. Dosa yang dilakukan secara terang-terangan lebih besar dosanya bagi pelakunya, sekaligus lebih buruk pengaruhnya bagi masyarakat.

Pertama, orang yang melakukan dosa terang-terangan berarti menjadi pelopor keburukan, sehingga dia menanggung dosa setiap orang yang mengikutinya. Nabi saw bersabda:

من سن في الإسلام سنة سيئة فعمل بها بعده كتب عليه مثل وزر من عمل بها ولا ينقص من أوزارهم شيء

“Barangsiapa yang mempelopori suatu jalan keburukan, lalu ditiru orang lain setelahnya, maka ditulis baginya setiap dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengikutinya.”(HR. Muslilm)

Tinggal menghitung, jika seseorang mengajarkan budaya pergaulan bebas di TV, lalu sejuta orang yang menyaksikan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama, maka orang yang memberi contoh menanggung dosa sejuta orang yang mengikutinya. Begitupula untuk dosa-dosa yang lainnya.

Kedua, dosa yang dilakukan dengan terang-terangan, tidak dimaafkan, peluang untuk bertaubat juga tipis, dan bahkan pelakunya halal untuk digunjing dan diperbicarakan. Sebagai mana sabda Nabi saw,

كل أمتي معافى  إلا المجاهرين وإن من المجاهرة أن يعمل الرجل بالليل عملا ثم يصبح وقد ستره الله فيقول يا فلان عملت البارحة كذا وكذا وقد بات يستره ربه ويصبح يكشف ستر الله عنه

“Setiap umatku dimaafkan, kecuali orang yang terang-terangan dalam melakukan dosa. Dan termasuk dianggap terang-terangan melakukan dosa ketika seseorang berbuat dosa di waktu malam, lalu aibnya ditutup oleh Allah, lalu pagi harinya dia bercerita.”(HR. Bukhori)

Al-Khirmani ra, menjelaskan hadits tersebut bahwa,”Setiap orang dari umat ini diampuni dosanya dan tidak disiksa karenanya, kecuali orang fasik yang memamerkan dosanya.”

Sementara Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Faathul Bari menjelaskan dari sisi yang lain. Beliau berkata, “ setiap umat ini tak boleh digunjing, kecuali orang yang terang-terangan dalam malakukan dosa. Hal senada diungkapkan pula oleh Imam An-Nawawi. Maka perhatikanlah, ketika seseorang menceritakan dosa kepada satu orang sekedar untuk memamerkan dosannya, bukan untuk mencari solusi atau bertanya tentang hukum maka dia dianggap terang-terangan dalam malakukan dosa, sehingga tidak dimaafkan.

lalu bagaimana dengan dosa yang dipamerkan dalam skala besar? Dipertontonkan di hadapan ribuan bahkan jutaan orang?

Ketiga, orang yang memamerkan dosa berarti telah bergabung dalam partai setan, bahkan menjadi juru kampanye, atau team suksusnya. Karena dosa adalah misi setan, sedangkan mereka mempromosikannya di hadapan banyak orang. Padahal, setan hanya akan menyeru para pengikutnya menuju neraka. Allah berfirman,

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”(QS. Fathir:6)

Keempat, orang yang melakukan dosa terang-terangan berarti telah kehilangan rasa malunya. Padahal rasa malu adalah pencegah dosa, barangsiapa yang telanjang dari rasa malu, maka tidak ada penghalang baginya untuk melakukan dosa dan berbuat sesukanya. Karenanya Nabi bersabda.

إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى إذا لم تستح فاصنع ما شئت.

Sesungguhnya di antara yang didapatkan manusia dari perkataan para Nabi adalah, apabila kamu tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”(HR. Bukhori)

Nabi juga mengabarkan bahwa antara rasa malu dan iman ibarat satu kait, jika yang satu hilang, maka hilanglah yang lain. Maka keimanan orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan berada di ujung tanduk.

Masih ada lagi sisi buruk dosa yang dilakukan terang-terangan. Ibnu Bathal ra menyebutkan bahwa orang yang melakukanya dianggap melecehkan hak Allah, Rasul_Nya, juga orang-orang mukmin yang shalih. Dia anggap melecehkan hak Allah dan Rasul_Nya, karena dengan sengaja ia melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya, lalu dipertontonkan di hadapan orang-orang. Jelas ini merupakan pelecehan terhadap Dzat yang memberi aturan. Bayangkan saja jika ada karyawan yang dengan terang-terangan melakukan pelanggaran dan dipamerkan dihadapan karyawan yang lain, dan juga atasan yang membuat aturan, jelas ini merupakan pelecehan. Namun kesalahan ini tidak sebanding jika dibandingkan dengan pelecehan terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitulah, dosa terang-terangan adalah pelecehan terhadap hak Alllah dan Rasul-Nya. Lalu bagaimana alurnya sehingga orang yang melakukaan dosa terang-terangan dianggap melecehkan hak orang-orang mukmin yang beriman?

Tentu mereka tahu, bahwa orang mukmin yang paling lemahpun tidak rela dosa itu dipamerkan di hadapan matanya, dan tentu mereka tahu, bahwa orang mukmin tak akan memberikan kemungkaran itu, Nabi saw telah memberikan perintah kepada umatnya yang beriman.

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya, dan jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya.(HR. Muslim)

Maka, ketika para pendosa itu memamerkan dosa, seakan tidak menghiraukan keberadaan orang-orang yang beriman.

Didalam kodisi kemungkaran dipertontonkan, menjadi kewajiban bagi setiap mumin untuk mencegahnya. Jika tidak, semua akan turut kena getahnya. Allah berfirman:

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.”(Al-Anfal:25)

Ayat ini jelas menunjukkan, bahwa bencana tidak hanya menimpa orang yang zhalim saja, tapi juga orang shalih di sekitarnya apabila meraka membiarkan kezhaliman itu terjadi. Karena orang-orang zhalim itu berbuat mungkar, itu seperti menumpang yang membiarkan penumpang lain melobangi kapal. Maka tatkala kapal bocor, air masuk dan menenggelamkan kapal, tentu yang tenggelam bukan hanya yang melobangi kapal saja, tapi semua akan ikut hanyut.

Jadi, siapa bilang dosa yang mereka lakukkan tidak mengganggu orang lain? Tidak merugikan orang lain?

Secara lebih khusus, Nabi saw menyebutkan dosa yang apabila telah terang-terangan dilakukan, maka bencana akan segera turun. Beliau bersabda,

ما ظهر في قوم الربا والزنا الا أحلّوا بأنفسهم عقاب الله عزّوجلّ

“Tiada merebak riba dan zina pada suatu kaum, melainkan pertanda mereka telah merelakan diri mereka untuk menerima hukuman dari Allah Azza wa Jalla.”(HR. Ahmad)

Hukuman itu bisa berupa bencana alam seperti gempa, banjir, angin yang dahsyat. Bisa juga berupa mewabahnya penyakit baru yang sulit diantisipasi. Sebagaimana dikabarkan juga oleh Nabi

لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يُعلِنوا بها إلا فشا فيهم الطاعون والأوجاع التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مضوا

Tidaklah merebak perbuatan kotor ditengah suatu kaum, hingga mereka terang-terangan denganya, melainkan akan menimpa atas mereka tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah dialami oleh orang-orang sebelum mereka.”(HR. Ibnu Majah)

Allahu Akbar 3x

Jama’ah shalat Iedul Fitri rahimakumullah

Sungguh, jika kita jujur dan peka, niscaya akan membenarkan hadits ini, sekaligus mengakuki, bahwa musibah yang berkali-kali mendera bangsa ini lantaran kemaksiatan masih merajai dan mendominasi. Ada solusi yang harus ditempuh untuk mencegah musibah dan bencana, yakni dengan mencegah kemungkaran yang dilakukan secara terang-terangan. Berdoa saja tidak cukup, bahkan dalam kondisi seperti itu, tanpa diiringi amar ma’ruf nahi mungkar, doa orang yang paling shalih sekalipun tak mampu menghentikan bencana.

Nabi bersabda

والذي نفسي بيده لتأمرنّ بالمعروف ولتنهون عن المنكر أو ليُوشِكنّ الله أن يبعث عليكم عقابا منه ثم تدعونه فلا يُستَجابُ لكم

Demi yang jiwaku ditangannya, hendaknya kamu mengajak yang ma’ruf dan dan mencegah yang mungkar, atau kalau tidak, Allah akan menimpakan atas kalian bencana, kemudian kalian berdoa namun tidak dikabulkan.”(HR. Tirmidzi)

Semoga Allah menjauhkan kita dari dosa yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل آبراهيم, إنك حميد مجيد. وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم, إنك حميد مجيد

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات, إنك سميع قريب مجيب الدعوات,  ربنا ءاتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Semoga Allah menerima amal kami dan amal anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: