Cinta Haqiqi

Oleh: Amin Wahyu elfatrany

Alhadulillah kita telah dijadikan sebagai hamba-hamba muslim yang berserah diri kepada Nya dengan menyatakan  Laailaahaillallaah Muhammadarrasulullah. Hanya jasa, banyak dari kit yang belum konsekuen dengan pernyataan itu. Kita menyatakan mencintai Allah tapi kenyataannya lebih mencintai hawa nafsu, sehingga tidak sedikit ajaran Allah yang kita langgar. Bahkan lebih dari itu kita menuhankan kebendaan dengan cara mencintainya melebihi cinta kita kepada Allah.

Definisi Cinta

Definisi cinta merurut terminologi bahasa adalah kecenderungan atau keberpihakan. Sementara, menurut terminology syara’ adalah keberpihakan kepada yang dicintai, sehingga mengikuti apa yang dikehendaki dan meninggalkan apa yang tidak ia sukai, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi.

Hal-hal yang dapat memalingkan cinta kepada Allah

Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.(Qs. Ali Imran: 14)

Di atas disebutkan enam bagian yang apabila manusia mencintainya melebihi cintanya kepada Allah berarti telah menuhankannya, ini sangat berbahaya, lebih tegas lagi Allah mengingatkan:

“Katakanlah: “jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (Qs. At Taubah:24)

Bagaimana kita mencintai Allah

Dalam rangka mencintai Allah, kita harus mengenal Allah dengan baik sesuai informasi Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah, yang meliputi Rubuubiyyah, Uluuhiyyah, dan Asma’ Wa Sifaat Allah, baik hukum, perintah maupun larangan-Nya. Seorang dikatakan mencintai Allah apabila memenuhi empat syarat:

Pertama, berbuat sesuai kehendak Allah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya.

Kedua, meninggalkan seluruh larangan-Nya, baik secara dhahir maupun batin.

Ketiga, mencintai orang-orang yang dicintai Allah, yaitu kaum beriman.

Keempat, membenci mereka yang dibenci Allah, yaitu kaum kafir, fasik, dan munafik.

Apa saja yang menghantarkan kita mencintai Allah

Menurut Ibnu Qayyim, ulama abad VII, ada 10 hal yang menyebabkan orang mencintai Allah:

  1. Membaca Al-Qur’an dan memahaminya dengan baik.
  2. Mendekatkan diri kepada Allah melalui media shalat sunnah sesudah shalat wajib.
  3. Selslu mengingat Allah dengan berdzikir dalam segala kondisi dengan hati, lisan, dan perbuatan.
  4. Mengutamakan kehindak Allah pada saat berbenturan dengan keinginan hawa nafsu.
  5. Menanamkan didalam hati, asmaa’ dan sifaat Allah dan memahami maknanya.
  6. Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita, baik nikmat dhahir maupun nikmat batin.
  7. Menundukkan hati dan diri ke haribaan Allah.
  8. Menyendiri berbunaat dan membaca kitab suci-Nya pada waktu malam saat orang sedang lelap tidur.
  9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang shaleh seta mengambil hikmah dan ilmu mereka.

10.  Menjahui segala sebab yang dapat menjauhkan kita dari Allah.

Penyeimbang cinta kepada Allah

Untuk mencintai Allah diperlukan penyeimbang. Digambarkan oleh para ulama “cinta itu bagaikan badan burung. Sehingga, ia tidak bisa terbang kecuali dengan dua sayap. Dua sayap itulah penyeimbang cinta kita kepada Allah, yaitu rasa harap di satu sisi dan rasa cemas di sisi yang lain”.

Rasa harap akan menimbulkan husnudhan (berbaik sangka) kepada Allah. Bila mengerjakan kebaikan, kita berharap amalan itu diterima sebagai amal shaleh yang perpahala.

Sementara, rasa cemas akan mendorong kita terus melakukan kebaikan. Dengan adanya rasa cemas itu, kita menjadi khawatir jangan-jangan amalan baik kita tidak diterima oleh Allah karena ada faktor-faktornya. Ketika seseorang memiiki rasa cemas dalam mengerjakan hal yang wajib, akan muncul dalam benaknya jangan-jangan amalannya tidak diterima atau kurang sempurna. Sehingga, dia terdorong untuk mengerjakan yang sunnah dan seterusnya. Rasa cemas juga dapat mencegah seseorang dari melakukan maksiat dan dosa. Dengan demikian, burung yang berbadan cinta, bersayap rasa harap sebelah kanan, dan rasa cemas sebelah kiri, akan terbang melayang ke langit bersujud di hadapan Allah Yang Maha Perkasa. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: