NIKAH MUHARRAMAH (wanita yang haram dinikahi)

Oleh: Amin Wahyu elfatraniy

Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun, mimnya di-dhammah yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun, mimnya di-fathah.

  1. HARAM SELAMA-LAMANYA (المحرمات تحريما مؤبدا )

Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.

Mahram sendiri terbagi menjadi empat kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan), mahram karena mula’anah (saling melaknat).

A. Kelompok pertama, yakni mahram karena keturunan, ada tujuh golongan:

  1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita.
  2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita.
  3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu.
  4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.
  5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.
  6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita.
  7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita

Mereka inilah yang dimaksudkan Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…” (An-Nisa: 23)

B. mahram karena penyusuan

juga berjumlah tujuh golongan, sama dengan mahram yang telah disebutkan pada nasab, hanya saja di sini sebabnya adalah penyusuan. Dua di antaranya telah disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan.” (An-Nisa 23)

Dan hadits yang marfu’ (artinya): “Apa yang haram karena nasab maka itupun haram karena punyusuan.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Abbas)

Hanya saja, berdasar pendapat yang paling kuat (rajih), yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikhuna (Muqbil) rahimahumullahu, bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah yang berlangsung pada masa kecil sebelum melewati usia 2 tahun, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuannya.” (Al-Baqarah: 233)

Dan Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha muttafaqun ‘alaihi bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah penyusuan yang berlangsung karena rasa lapar dan hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa (no. hadits 2150) bahwa tidak mengharamkan suatu penyusuan kecuali yang membelah (mengisi) usus dan berlangsung sebelum penyapihan.

Dan yang diperhitungkan adalah minimal 5 kali penyusuan. Setiap penyusuan bentuknya adalah: bayi menyusu sampai kenyang (puas) lalu berhenti dan tidak mau lagi untuk disusukan meskipun diselingi dengan tarikan nafas bayi atau dia mencopot puting susu sesaat lalu dihisap kembali.

C. Mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).

Adapun kelompok ketiga, jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut:

  1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.
  2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.
  3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas berdasarkan An-Nisa: 23.
  4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib, dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.

Nomor 1, 2 dan 3 hanya menjadi mahram dengan akad yang sah meskipun belum melakukan jima’ (hubungan suami istri). Adapun yang keempat maka dipersyaratkan bersama dengan akad yang sah dan harus terjadi jima’, dan tidak dipersyaratkan rabibah itu harus dalam asuhannya menurut pendapat yang paling rajih yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu. Dan mereka tetap sebagai mahram meskipun terjadi perceraian atau ditinggal mati.

D. Mahram karena mula’anah (saling melaknat)

الْمُتَلَاعِنَيْنِ أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَهُمَا ثُمَّ لَا يَجْتَمِعَانِ أَبَدًا

orang yang saling melaknat dengan dipisahkannya diantara mereka berdua, kemudian mereka tidak akan tidak berkumpul selamanya.

2. HARAM SEMENTARA (المحرمات تحريما مؤقتا )

1. Wanita yang haram dinikahi untuk sementara waktu saja ialah:  saudara perempuan istri hingga istrinya di cerai dahulu dan masa iddahnya habis, atau ia meninggal dunia.

وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ

Dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara (An-Nisa’:23)

2. Kemudian bibi istri baik dari jalur bapaknya maupun dari jalur ibunya. Jadi ia tidak boleh dinikahinya. Jadi ia tidak boleh dinikahinya hingga istrinya dicerai dahulu dan masa iddahnya habis atau meninggal dunia. Hal itu berdasarkan hadits Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw melarang seorang wanita dinikahi bersama-sama dengan bibinya, baik dari jalur bapaknya atau dari jalur ibunya.(Mutafaqun ‘Alaih)

3. Wanita yang bersuami. Wanita tersebut haram dinikahi hingga ia dicerai suaminya atau menjanda dan masa iddahnya telah habis, berdasarkan firman Allh swt:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami. ( An-Nisa’:24)

4. Wanita yang sedang menjalani masa iddahnya karena perceraian atau suaminya meninggal dunia. Jadi wanita yang seperti itu haram dinikahi dan dilamar hingga masa iddahnya habis. Tetapi tidak ada salahnya menyindirnya, misalnya ia mengatakan kepadanya : “Aku tertarik padamu”. Berdasarkan firman Allah:

“janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf . Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya.”. (Al-Baqarah: 235)

5. Wanita yang telah ditalaq tiga kali hingga ia menikah dengan suami lain dan berpisah dengannya karena perceraian atau suaminya meninggal dunia dan masa iddahnya habis. Hal itu berdasarkan firman Allah swt.

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain.” (Al-Baqarah: 230)

6. Wanita berzina hingga ia bertaubat dan diketahui benar-benar bertaubat dan selesai massa iddahnya, berdasarkan firman Allah swt.

“Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu’min .”(An-Nur: 3)

Dan juga sabda Rasulullah saw:

Laki-laki pezina yang telah di cambuk tidak boleh menikah, kecuali dengan wanita seperti dirinya. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

NB: JENIS-JENIS IDDAH

  1. 1. Wanita yang ditalaq yang masih bisa mengalami haid yaitu tiga quru’ (tiga kali suci)
  2. 2. Wanita yang ditalaq dalam keadaan tidak haid, baik  karena usianya telah lanjut atau karena masih kecil adalah selama tiga bulan.
  3. 3. Wanita yang hamil yang ditalaq adalah hingga ia melahirkan bayinya.
  4. 4. Wanita yang ditinggal wafat suaminya adalah empat bulan sepuluh hari (bagi wanita merdeka) atau dua bulan lima hari (bagi budak wanita).
  5. 5. Wanita yang ditinggal pergi suaminya yang tidak diketahui keberadaannya, apakah ia masih hidup atau sudah meninggal dunia. Maka iddahnya empat tahun, yaitu sejak ia mendapat berita tentang suaminya, kemudian ia menjalani masa iddah sebagaimana iddahnya wanita yang ditinggal wafat suaminya, yaitu selama 4 bulan 10 hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: