Ketentuan Ibnu Sabil

I.    DEFINISI IBNU SABIL

Secara bahasa sabil memiliki arti lebih umum daripada thariq, tharik adalah setiap jalan yang dapat di lalui baik dengan cara yang mudah atau dengan cara yang sulit. Sedangkan sabil adalah jalan yang dapat di lalui dengan mudah, atau dikataka juga sabil adalah jalan yang terang atau yang bisa di buat jalan oleh orang.

Secara istilah adalah seorang musafir yang kehilangan harta dalam perjalananya, atau habis perbekalan sehingga ia menjadi orang yang sangat membutuhkan. Meskipun di rumahnya ia memiliki harta yang banyak namun, ia tidak dapat mengambilnya karena jauhnya jarak antara dia dengan rumahnya dan tidak adanya wasilah yang dapat di gunakan untuk mengambilnya.

Sedangkan menurut Al kisani Ibnu Sabil adalah orang asing yang terputus dari hartanya meskipun ia adalah orang yang kaya di negrinya, ia di diberikan zakat karena saat sekarang ini ia adalah orang yang fakir.

Oleh karena itu maka  perbedaan antara ibnu sabil dengan orang yang fakir sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abidin adalah; Ibnu sabil tidak boleh menggambil harta yang lebih banyak dari kebutuhanya, sedangkan fakir diperbolehkan untuk mengambil harta yang melebihi kebutuhanya.

Para ahli ilmu mereka banyak menyebutkan bahwa diantara pengertian Ibnu sabil yang tidak dapat di terima adalah:

  1. Definisi Asy Syirazi yang dinukil oleh Al Mawardi bahwa ibnu sabil adalah mereka pengemis yang meminta-minta kepada manusia, Al mawardi menambahkan bahwa ibnu sabil adalah seorang musafir yang kehabisan bekal.

Pendapat ini tidak benar secara mutlak, karena seorang musafir yang kehabisan atau kehilangan bekal ia termasuk ibnu sabil apabila ia meminta untuk memenuhi kebutuhanya. Akan tetapi, tidaklah dikatakan sebagai Ibnu sabil manakala seorang meminta-minta di daerahnya untuk memenuhi kebutuhanya. Ia bukan ibnu sabil melainkan fakir yang harus di beri karena kefakiranya.

  1. Pendapat yang di kemukakan Ibnu Abdil Barr dari Imam Malik bahwa Ibnu sabil hanya terbatas bagi mereka yang berperang. Pendapat inilah yang masyhur di madzhabnya.

Akan tetapi setelah di rujuk ke kitab-kitab Madzbah Malikiyah maka di dapatkan bahwa yang di kenal dalam Madzhabnya bahwa Ibnu sabil adalah orang yang kehabisan bekal di negri / daerah orang lain. Di lain kesempatan bahwa ibnu sabil adalah seorang musafir dalam rangka ketaatan kepada Allah.

II.   BAGAIMANA KITA MENGETAHUI IBNU SABIL?

Apabila seorang datang dan mengaku bahwa ia adalah ibnu sabil yang kehabisan bekal maka menurut  ahli ilmu mereka dimintai keterangan apa yang menyebabkan ia kehabisan bekal. Dan cukuplah dalam hal ini apa yang nampak pada lahir mereka.

Ibnul Arabi berkata : Adapun agama maka itu harus menjadi suatu ketetapan, sedangkan seluruh sifat yang nampak pada waktu itu cukup mewakili apa yang tersembunyi darinya.

Selain itu hadist yang mengisahkan tentang tiga orang dari bani israil yang menderita peyakit, kusta, botak dan buta. Mereka mengadukan dengan apa yang terlihat pada waktu itu, oleh karena itu maka penilaian cukup dengan asingya orang tersebut atau keadaanya (yang sangat membutuhkan ) pada waktu itu.

III.  HIKMAH DI JADIKANYA IBNU SABIL SEBAGAI SALAH SATU PENERIMA ZAKAT

Pertama: Allah menjadikan bagi ibnu sabil berupa hak pada harta zakat, fa’I dan seperlima dari harta ghanimah. Allah berfirman:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”( At taubah : 60).

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. ( Al Hasyr : 7)

Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Anfal : 41)

Kedua: Allah menjadikan bagi ibnu sabil  hak secara mutlak tanpa adanya syarat-syarat tertentu yang mengikat. Disamping itu kita juga dapatkan perintah untuk memberikan hak tersebut secara langsung dalam nash Al Qur’an. Allah berfirman:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. ( Al Isra’ : 26)

Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka Itulah orang-orang beruntung. ( Ar rum : 38)

Ketiga : Allah memerintahkan secara umum untuk berinfak pada 3 nash / dalil untuk mendapatkan kebaikan. Pada setiap nas tersebut terdapat ibnu sabil sebagai penerima infaq tersebut.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. ( Al Baqarah : 177)

Pada ayat di atas Allah menjadikan hak berupa infak dalam kebaikan, dan ia menjadikan salah satu dari obyeknya adalah ibnu sabil.

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya. (Al Baqarah : 215)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (An nisa : 37).

Semua ayat diatas menunjukan perhatian islam kepada Ibnu sabil sehingga ia di jadikan salah satu dari orang yang berhak menerima zakat, sebagai salah satu golongan yang berhak menerima harta fa’I dan ghanimah. Bahkan ketika islam memerintahkan kepada umatnya untuk berinfak iapun menjadikan ibnu sabil sebagai salah satu golongan yang berhak menerimanya.

Kalau kita kaji lebih ulang tentang 8 golongan orang yang berhak menerima zakat, maka kita akan dapati pada delapan ayat diatas ia senantiasa mendapatkan bagian bersama orang miskin.

IV.    SYARAT-SYARAT YANG HARUS DI PENUHI OLEH IBNU SABIL

  1. Ibnu Sabila harus dari seorang musafir.

Jumhur ahli ilmu mensyaratkan Ibnu sabil haruslah seorang yang tengah melakukan perjalanan (safar) sehingga ia diperbolehkan untuk mengambil uang zakat.

  1. Imam Abu Hanifah, Malik, dan orang yang sependapat dengan mereka berpendapat bahwa tidak diperbolehkan bagi orang yang hendak melakukan safar dari negrinya lalu ia mengambil harta zakat dengan alasan bahwa ia adalah ibnu sabil, sampai meskipun ia membutuhkanya. Maka seandainya diperbolehkan maka itu bukan karena ia ibnu sabil, melainkan karena ia adalah fakir.demikianlah yang di kemukakan ulama Hanafiyah.

As Sarhasi berkata : Ibnu sabil adalah orang yang terputus dari hartanya, yang mana ini disebabkan jauhnya perjalanan maka setiap orang  yang menyelusuri jalanan maak ia adalah ibnu sabil, baik ia kaya atau miskin. Namun apabila musafir tersebut kaya maka ia diperintahkan membayar zakat.

  1. sebagian  fuqaha memasukan Ibnu sabil kedalam golongan yang berhak menerima zakat bagi mereka yang mukim dan bukan musafir atau tidak ada rencana untuk bersafar, jika harta yang ia miliki tidak cukup untuk melakukan sebuah perjalanan. Mereka beralasan bahwa sebab diberikanya harta zakat kepada ibu sabil adalah karena tidak ada kemampuan untuk mengambil harta di tempat tinggalnya, dan sebab ini juga terdapat pada orang yang bermukim apabila mengambil hartanya karena berbagai sebab. Inilah yang dinaskan oleh Ulama Hanafiyah.

Pendapat Yang Rajih Tentang Di Jadikanya Safar Sebagai Syarat Ibnu Sabi

pertama : Safar adalah syarat yang harus ada sehingga ibnu sabil berhak untuk mengambil harta zakat. Maka tidaklah cukup bila hanya keinginan untuk bersafar dari negrinya sedangkan ia tidak memiliki uang, maka dalam hal ini ia adalah fkir miskin, ia boleh mengmbil harta zakat karena kefakiran dan kemiskinanya bukan karena ibnu sabil.

Ia juga tidak diperbolehkan untuk mengambil dengan alasan Ibnu sabil apabila ia seorang yang mukim di negrinya hanya karena ia tidak bisa mengambil harta. Keadaan ini tida bisa di Qiaskan kepada ibnu sabil, karena seorang bila masih di negrinya ia masih bisa mengadukan masalah tersebut kepada kerabat, saudara dan kenalan-kenalanya. Sugguh sangat berbeda dengan ibnu sabil yang sudah kehabisan bekal.

Demikianlah perkataan Imam Malik,Abu Hanifah, Ahmad serta pengikut mereka.

Kedua: Madzhab Imam Syaf’I dan pengikutnya yang berpendapat bahwa ibnu sabil ialah kehilangan hartanya, dan tidak memili sesuatu untuk menafkahi dirinya, atau seorang yang akan melakukan perjalanan dari negrinya akan tetapi ia tidak mendapatkan harta untuk membiayai perjalanya.

Imam Nawawi berkata: (harta) diberikan secara mutlak tanpa adalagi perselisihan kepada seorang yang pergi bersafar dari dimana ia tinggal. Adapun orang asing yang terasing di suatu negri (nyasar), maka menurup pendapat yang shahih menurut nas-nas imam syafii bahwa ia juga mendapatkan harta zakat secara mutlaq. Sedangkan menurut Ahli khurasan maka ia antara dua keadaan:

  1. Diberikan harta zakat kepadanya dan inilah pendapat yang shahih.
  2. Tidak di berikan zakat kepada seorang yang terasing (nyasar) di suatu negri

Ketiga: Madzhab Hanafiyah memperbolehkan untuk memberikan harta zakat kepada mukim yang kaya yang ia tidak bisa mendapatkan hartanya, hal ini di qiyaskan kepada ibu sabil sebagai seorang musafir yang dengan semua kelemahanya untuk mengambil harta (yang berada di negri asalnya).

  1. Ibnu Sabil adalah orang yang membutuhkan dalam perjalananya meskipun di negrinya ia adalah orang yang kaya.

Ahli ilmu sepakat bahwa Ibnu sabil jika ia memiliki harta yang dapat mencukupi keperluan di perjalananya maka ia tidak diperbolehkan untuk mengambil harta zakat atau dari shadaqah yang hukumny wajib.

Imam Syafii rahimahullah berkata : Adapun ibnu sabil yang mampu menemuh perjalanan tanpa harus mendapat bantuan maka ia tidak boleh di beri harta zakat. Kecuali bila ia masuk dalam katgori penerima zakat yang lain. Seperti orang yang terlilit hutang, tentara yang meninggalkan keluarganya untuk berperang dan amil zakat.

  1. Tidak di dapatkan dari seorang Ibnu sabil orang yang menanggungnya.

Para ahli ilmu mensyaratkan bolehnya menerima zakat apabila tidak ada orang yang meminjamkan harta kepadanya apabila ia seorang yang kaya di negrinya.  Inilah yang menjadi pendapat madzhab Malikiyah. Berkata Ad Dardir : Disyaratkan tida ada orang yang menanggung (kebutuhan) nya dan ia adalah orang yang kaya di negrinya. Jika ia mendapat bagian maka tidak diperbolehkan untuk mengambilnya.

Demikian pula Hanablah dan Ibnu Taimiyah mensyaratkan hal yang sama. Imam Mawardi mengtakan: jika Ibnu sabil mampu untuk meminjam maka menurut fatwa Ibnu Taimiyah tidak boleh mengambil zakat.

Akan tetapi menurut fatwa Abi Umar bin Ahmad bin Qudamah diperbolehkan. Beliau tidak mensyaratkan adanya kemampuan untuk melakukan pinjaman karena ayat yang menjelaskan hal itu secara mutlak.

  1. Hendaklah safar yang ia lakukan adalah safar dalam macam yang khusus.

Sebagian ahli ilmu mensyaratkan safar yang di lakukan oleh Ibnu sabil adalah safar dalam ketaatan dan bukan safar dalam kemaksiatan atau sekedar safar yang hukumnya mubah karena zakat tidak boleh di berikan kepada orang yang dalam rangka kemaksiatan kepada Allah.

Imam Nawawi mengatakan : jika safar yang di lakukan adalah adalah safar dalam rangka ketaatan seperti berhaji, berperang, ziarah yang diprebolehkan dan lain sebagainya maka ia boleh mengambil harta zakat tanpa ada perslisihan.

Ibnu Taimiyah berkata : diberikan harta zakat kepada Ibnu sabil apa yang ia butuhkan, kecuali apabila ia (bersafar) dalam rangka kemaksiatan kepada Allah maka ia tidak diberikan kepadanya sampai ia bertaubat.

Adapun ungkapan yang tidak memperbolehkan untuk memberikan harta zakat kepada ibnu sabil yang melakukan safar yang mubah maka itu adalah perkataan Syafiiyah, Hanabalah,  dan dhahir perkataan Malik tidak memperbolehkan karena ia mensyaratkan safar yang di lakukan adalah safar dalam rangka ketaatan.

An nawawi dalam madzhabnya mengatakan : ibnu sabil di berikan bagian dalam safar yang mubah seperti perdagangan dan berlari menurut pendapat yang shahih, sedangkan untuk yang kedua tadi tidak diberi. Sedangkan  Al mawardi menyebutkan : jika safar yang dilakukan adalah safar yang mubah maka menurut pendapat yang shahih ia mendapat bagian.

Adapun pendapat Syafiiyah dan Hanabalah yang ini pendapat yang rajih dalam madzhabnya : bahwa ketentuan safar harus dalam rangka ketaatan, tidak ada dalil yang menjelaskan hal itu. Yang demikian itu hanya ketetapan nas secara mutlak yang tidak berhujah. Tapi ia hanya sekedar di sandarkan kepada perbuatan yang sesuai dengan syar’I, padahal syar’I memperbolehkan safar untuk megais rizki dan pencaharian. Allah berfirman : Al Mulk : 15.

Yang perlu di perhatikan bahw menurut pendapat yang rajih menurut syafiiyah dan  hanabalah bahwa harta zakat tidak di berika kepada ibnu sabil yang kehabisan bekal apabila safarnya bertujuan untuk piknik dan bersenang-senang.

  1. Ia adalah seorang muslim

Islam merupakan syarat yang sudah pasti bagi penerima zakat. Maka tidak diperbolehkan mengambil harta zakat bagi seorang yang kafir. Inilah pendapat yang shahih dari jumhur Ahli ilmu. Namun demikian menurut pendapat sebagian mereka diperbolehkan bagi kafir dzimi.

Atau bila orang kafir tersebut termasuk dalam katagori mualafati Qulubuhum (orang yang hatinya terpikat).

  1. Bukan termasuk kerabat nabi

Kerabat Rasulullah adalah Bani Hasyim dan bani Abdu Muthalib. Dalam riwayat muslim disebutkan

عن المطلب بن ربيعة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الصدقة لا تنبغي لآل محمد ، إمنا هي أوساخ الناس

Dari muthalib bin Rabiah bahwa Rasulullah saw bersabda : sesungguhnya shadahqah tidak pantas bagi keluarga muhamad, karena ia diperuntukan untuk manusia

  1. Ibnu sabil adalah orang yang merdeka
  2. Ibnu sabil adalah orang yang merdeka.

Ahi ilmu mensyaratkan ibnu sabil bukan seorang budak sehingga ia tidak diperbolehkan untuk mengambil harata zakat. Demikinlah yang di kemukan oleh Ad dardir   dan Al Mawardi.   mereka beralasa bahwa nafaqah seora budak adalah tanggung jawab majikanya, dan harta yang di dapakan oleh budak adalah milik tuanya bukan milik budak tersebut, begitu juga bahwa seorang budak tidak diperboehkan mengambil harta zakat ketika majikanya seorang yang kaya. Ia baru diperboelhkan untuk menerima manakala majikanya miskin atau majikanya tidak memberikan makan kepadanya, maka dalam keadaan ini ia diberi harta zakat sekedar untuk dapat menyampaikanya kepada majikanya

  1. Ia tidak mampu untuk bekerja dan berusaha.
  2. ia mampu untuk bekerja dan berusaha.

Sebagian ulama mensyaratkan bagi ibnu sabil yang berhak mendapatkan harta zakat adalah mereka yang tidak mampu untuk bekerja. Jika ia mampu untuk berkerja maka ia wajib untuk berkerja dan tidak boeleh untuk mengambil harta zakat.

V.    UKURAN NAFAKAH YANG DI BERIKAN KEPADA IBNU SABIL

Ibnu sabil di berikan kepadanya harta yang mencukupinya untuk pulang ke negrinya. Imam Safii berkata : ” Ibnu sabil di beri bagian sebatas dapat mengantarkanya ke negrinya, namun jika ia hendak pulang kenegrinya lalu pulang lagi ketempat dimana sekarang ia berada maka ia diberi harta untuk membiayai keberangkatan dan kepulanganya.

Ibnu sibagh dan saudaranya mengatakan ” diperintahkan untuk menyedikan kendaraan apabila jika jarak perjalanan masih dalam koredor boeleh menjamak shalat, atau jika ia lemah sehingga tidak mampu untuk berjalan. Jika ia masih kuat mengadakan perjalanan maka ia tidak perlu di sediakan kendaraan akan tetapi cukup dengan perbekalan yang mencukupi.

Apakah ia berkewajiban untuk mengembalikan harta yang telah di berikanya ?

Menurut madzhab Syafiiyah atau Hanabilah ia wajib untuk mengembalikan harta zakat atau perbekalan yang telah di berikan apabila mendapatkan kelebihan  harta setelah sampai kenegrinya, dengan cara membayarkanya kepada panita / amil zakat yang ada atau mensedekahkanya.

Sedangkan menurut madzhab Hanafiyah dan malikiyah maka ia tidak memiliki kewajiban untuk mengembalikanya secara mutlak.

Al Qadhi Abdul Wahab Al Baghdadi mengatakan: tidak ada kewjiban untuk mengembalikan apa yang telah ia ambil dari harta zakat apabila ia telah kembali ke negrinya, dan tidak pula mengembalikanya dalam bentuk shadaqah.

Maka pendapat yang paling rajih menurut Dr sualiman Al Asqar adalah pendapat Syafiiah dan Hanabalah.

VI.    ORANG –ORANG YANG TERMASUK DALAM KATAGORI IBNU SABIL

  1. Orang yang melaksanakan haji dan umrah, apabila mereka kehilangan harta atau kehabisan nafkah atau tertimpa kesusahan yang menyebabkan hilangnya harta dan kendaraan mereka, ataupun mereka yang sampai stres yang di sebabkan hilangnya harta dan pihak keluarga tidak dapat di hubugi sehinga harus di obati.
  2. Para da’I yang kehabisan harta sehingg tidak mungkin  bagi mereka untuk mendapatkan harta tersebut di rumah mereka, maka mereka di beri bagian sehingga memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan dan dapat kembali kerumahnya.
  3. Pedagang atau pemilik perusahaan, ketika ia sedang pergi ke sebuah darah tiba-tiba hartanya hilang.  Dan tidak mungkin baginya untuk mengambil / mendapatkan harta dari rumah, meskipun ia orang kaya dirumahnya.
  4. tentara yang kaya akan tetapi ia tidak mendapat kiriman dari rumah, orang ini lebih utama diberikan bagian dari golongan fisabilillah.
  5. Penuntut ilmu dan pekerja yang menghendaki pulang kerumah akan tetapi tidak memiliki uang untuk biaya, dan tidak ada kemungkinan akan datangnya kiriman dari rumah
  6. Orang kaya yang terusir dari rumahnya, dan tidak memiliki sertifikat sebidang  tanah atau harta dari rumahnya.

VII.    REFRENSI

  1. Ibnu Mandzur, lisanul Arab, cet 1, Dar lisanul Arab, Bairut libanon.
  2. Ibnul Arabi, Tafsir Ahkamul Qur’an,. Kairo mesir. Cet 2. th. 1967 M.
  3. Ala’udin Abu bakar bin Mas’ud Al kisani, Bada’iu Shana’I, Darul Kutub Al Arabie, Bairut. cet 2 th. 1402 H / 1982 M.
  4. Ibnu Abidin, Hasyiyah ibnu Abidin, Syarikah Maktabah wa Matba’ah Musthafa Al Babi Al Halabi, Kairo Mesir. cet 2 th. 1386 H / 1996 M.
  5. Ali bin Sulaiman Al Mawardi, Al Inshaf fie Ma’rifatir rajih min masail Al Khilaf ala Madzhab Imam Ahmad.. Dar Ihyaut thurats Al Arabi, Bairut. cet 2 th. 1406 H / 1986  M.
  6. Sahun bin Sa’id At tanawuhi, Mudawanah Al Kubra, Daru kutub Al Ilmiyah, Bairut. cet. 1 th. 1415 H / 1994 M.
  7. Syamsudin As Sarkhasi, Al Mabsuth, Darul Ma’rifah, Bairut, cet th. 1409 H / 1989 M.
  8. Muhamad bin Abdullah At tartasyi, Tanwirul Abshar, Syarikah Maktabah wa Matba’ah Musthafa Al Babi Al Halabi, Kairo Mesir. cet 2 th. 1386 H / 1996 M.
  9. Yahya bin Syaraf An Nawawi, Al Majmu Syarhul Muhadzab, Maktabah As salafiyah, Madinah Al Munawarah.
  10. Muhamad bin Idris As Syafii, Al Umm.

  1. Ahmad bin Muhamad Ad Dardari, Syarhu Shaghir Ala Aqrabil Masalik Ila Madzhab Imam Malik, Dar Ma’rifah, kairo. Cet 1392 H .
  2. Imam Nawawi, Raudhatu thalibin, Maktabah Al Islamiyah Bairut, cet 1.
  3. Muhamad bin Abdillah Aj jardani, Fathul Alam bisyarhi Mursyidul Anam,Dar Ibnu Hazm, Bairut. Cet 1 th. 1318 H / 1997 M
  4. Al Majid Ibnu Taimiyah, Al Muharar fil fiqhi Ala Madzhab Imam Ahmad, Darul Kutub AL Arabie, Bairut
  5. Abdul Wahab Al Baghdadi, Al Maunah ala Madzhab Alamul Madinah.
  6. Majalatus Syari’ah wad Dirasah Al Islamiyah, Majlis An Nasyr AL ilmiyah Jamiatul Kuwait, edisi 15 Ramadhan 1421 H / 2000 M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: