BERSUCI DENGAN AIR

Oleh: Amin Wahyu elfatraniy

BERSUCI DENGAN AIR

Semua air yang turun dari langit atau yang keluar dari dalam bumi adalah suci dan mensucikan. Ini didasarkan pada firman Allah:

Dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih,

هو الطهور ماؤه الحل ميتته

“Ia (air laut) suci airnya halal bangkainya”

Serta pada sabdaNabi tentang sumur budha’ah:

إنّ الماء طهور لاينجسه شيء

“sesungguhnya air itu suci, tidak bis dinajiskan oleh sesuatupun”[1]

Air tersebut tetap suci meskipun bercampur dengan sesuatu yang suci pula selama tidak keluar dari batas kesuciannya yang mutlak. Karena ada sabda Nabi kepada sekolompok wanita yang akan memandikan puteri beliau

اغسلنها ثلاثا أو خمسا أو أكثر من ذلك إن رأيتن ذلك بماء وسدر واجعلن في الآخرة كافورا أو شيئا من كافور

”Mandikanlah dia tiga kali, atau lima kali atau lebih dari itu kalau kamu berpendapat begitu dengan air dan daun bidara. Dan pada kali yang terakhir beilah kapur barus atau sedikit kapur barus”[2]

Tidak boleh terburu-buru menghukumi bahwa air itu najis, sekalipun kejatuhan barang yang najis, kecuali apabila berubah (baunya, atau rasanya, atau warnanya) karena pengaruh barang yang najis tersebut. Ini didasarkan pada hadits Abu Sa’id, ia berkata:

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِىَ بِئْرٌ يُلْقَى فِيهَا الْحِيَضُ وَلُحُومُ الْكِلاَبِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ

“Ada seorang sahabat yang bertanya Ya Rasulullah, bolehkah kami berwudhu dengan (air) sumur budha’ah? Yaitu sebuah sumur yang darah haid, daging anjing, dan barang yang bau dibuang kedalamya.” Maka jawab Beliau,”Air itu suci, tidak bisa dinajiskan oleh sesuatu apapun.”[3]

Dalam pembahasan tentang air, perlu diyakini bahwa hukum asal air adalah suci dan mensucikan. Hukum itu berputar di sekitar illat nya, ada atau tidak. Tidak bisa dikatakan najis, sehingga benar-benar diyakini bahwa kesuciannya telah hilang karena terkena najis.

Pembagian air dapat dikelompokkan sebagai berikut:

A. Air mutlak

Yaitu air asli dari sumbernya/berada dalam keadaan aslinya, baik turun dari langit atau keluar dari bumi. Hukum air ini adalah suci dan mensucikan, bagaimanapun rasa, warna dan baunya. Baik asin rasanya, keruh warnanya maupun tidak sedap aromanya.

Pembagian Air Mutlak:

  1. Air hujan, air es dan embun.

Sebagaimana firman Allah:

Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih (QS. Al-Furqon:48)

  1. Air laut.

Sebagaimana pernyataan Rasulullah ketika ditanya para sahabat tentang ait laut:

عن أبي هريرة وضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في البحر: هو الطهور ماؤه , الحل ميتته

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: “Rasulullah Saw. Bersabda tentang laut: “ Airnya suci dan bangkainya halal” (Dikelurkan oleh Al-Arba’ah dan Ibnu Abi Syaibah, lafadh tersebut miliknya da disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan At-Tirmidzi)[4]

  1. Air zam-zam

Sebagaimana sabda Rasulullah:

دَعَا بِسَجْلٍ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشَرِبَ مِنْهُ وَتَوَضَّأَ

“Rasulullah memanggil dengan membawa ember  yang penuh dengan air zam-zam kemudian beliau minum dan berwudhu darinya(air).”

Dalil Ijma’: Al-Allamah Shidiq Hasan Khon berkata dalam Ar-Raudhoh Nadiyyah ( 1/53) : “Tidak ada perselisihan kalau air mutlak adalah suci dan mensucikan, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an, sunnah dan ijma’ serta hukum asal.

B. Air Musta’mal

Yaitu air yang telah digunakan untuk wudhu dan mandi / tetesan air bekas dipakai untuk wudhu

Para ulama berselisih pendapat tentang hukum air musta’mal ini, apakah suci atau tidak. Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa air musta’mal adalah Suci dan mensucikan, sampai datang bukti yang menyatakan tidak boleh dipakai lagi.[5]Dalil yang menjelaskan tentang hal ini adalah:

قال : خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم بالهاجرة إلى البطحاء فتوضأ ثم صلى الظهر ركعتين والعصر ركعتين وبين يديه عنزة . وزاد فيه عون عن أبيه عن أبي جحيفة قال كان يمر من ورائها المرأة وقام الناس فجعلوا يأخذون يديه فيمسحون بهما وجوههم قال فأخذت بيده فوضعتها على وجهي فإذا هي أبرد من الثلج وأطيب رائحة من المسك

“Dari Abu Juhaifah berkata : Rasululloh Shallallahu’alaihi wassalam pernah keluar kepada kami pada siang hari, beliau diberi tempat wudhu dan berwudhu dengannya lalu para sahabat mengambil sisa air wudhunya dan mengusapkan dengannya. (HR. Bukhori no. 187)

عَنِ الرُّبَيِّعِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- مَسَحَ بِرَأْسِهِ مِنْ فَضْلِ مَاءٍ كَانَ فِى يَدِهِ.

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidh bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wassalam mengusap kepalanya dengan sisa air yang ada di tangannya. (HR. Abu Daud, dan dihasankan Al-Albani dalam Shohih sunan Abu Daud)

Dari Jabir bin Abdillah berkata : Rasululloh Shallallahu’alaihi wassalam pernah mengunjungiku ketika saya sakit, tidak sadarkan diri. Lalu beliau berwudhu dan menuangkan kepadaku dari tempat wudhunya tadi. (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits di atas terdapat dalil tentang sucinya air musta’mal / air bekas dipakai untuk wudhu.

C. Air mutlak yang tercampur dengan sesuatu yang suci

Apabila air tercampur dengan sesuatu yang suci seperti sabun, minyak wangi dan sebagainya, maka hukumnya tidak lepas dari dua keadaan :

1. Apabila kemutlakan air masih terjaga, maka hukumnya suci dan mensucikan.

Dalilnya adalah sebagai berikut:

عن أم عطية الأنصارية رضي الله عنها قالت : دخل علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم حين توفيت ابنته فقال ( اغسلنها ثلاثا أو خمسا أو أكثر من ذلك إن رأيتن ذلك بماء وسدر واجعلن في الآخرة كافورا أو شيئا من كافور فإذا فرغتن فآذنني

Dari Ummu ‘Athiyyah Al-Anshoriyyah berkata : Rasululloh Shallallahu’alaihi wassalam pernah masuk pada kami ketika putrinya meninggal dunia seraya bersabda : Bersihkanlah tiga kali atau lima kali atau lebih, bila kalian memandang perlu dengan air daun bidara. Dan campurlah basuhan terakhir dengan kafur / minyak wangi. (HR. Bukhori dan Muslim).

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- اغْتَسَلَ وَمَيْمُونَةُ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ فِى قَصْعَةٍ فِيهَا أَثَرُ الْعَجِينِ.

Dari Ummu Hani berkata : Saya melihat Rasululloh Shallallahu’alaihi wassalam pernah mandi bersama Maimunah dari suatu bejana yang tercampur tepung. ( HR. Ibnu Khuzaimah, Nasa’I, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad dengan sanad Shohih)

Dalam hadits di atas terdapat campuran antara dan air dengan minyak wangi dan antara air dengan tepung. Tetapi campuran tidak sampai menyebabkan hilangnya kemutlakan air. Karena itu, boleh bersuci dengan air tersebut.

2. Apabila kemutlakan air tidak terjaga, seperti air susu, air kopi, santan dan sebagainya, Maka hukumnya Suci tapi tidak mensucikan.

Imam Ibnu Qudamah berkata   Kami tidak mendapati perselisihan pendapat dalam masalah ini di kalangan ahli ilmu yang kami ketahui

D. Air yang tercampur dengan sesuatu barang najis

Apabila air tercampur dengan sesuatu yang najis, maka hukumnya tidak luput dari dua keadaan

1.Apabila air yang tercampur dengan barang najis tadi berubah rasa, warna dan baunya, maka tidak boleh bersuci dengan air tersebut

2.Apabila air tercampur dengan barang najis, tidak berubah warna, rasa dan baunya. Hukum air semacam ini suci dan mensucikan, berdasarkan dalil sebagai berikut:

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِىَ بِئْرٌ يُلْقَى فِيهَا الْحِيَضُ وَلُحُومُ الْكِلاَبِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ

Dari Abu Said Al-Khudri berkata : Rasululloh Shallallahu’alaihi wassalam pernah ditanya : Bolehkah kita berwudhu dari air Budho’ah, yaitu sumur yang padanya terdapat kain darah haidh, kotoran dan daging anjing? Rasululloh Shallallahu’alaihi wassalam menjawab : Air itu suci, tidak dinajiskan oleh sesuatupun. (Shohih. Diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I, Daruqutni, Ibnu Jarud, Al-Baghawi. Tirmidzi berkata : hadits hasan. Dan dishohihkan Ahmad bin Hambal, Yahya bin Main dan Ibnu Hazm).

Referensi:

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Fiqh Sunnah
  3. Al-Wajiz
  4. Minhajul Muslim
  5. Tuhfatul Ahwadzi
  6. Fathul Bari III
  7. Shohih Muslim II


[1] . Hadits Shohih, Sunan Tirmidzi (1:45), Sunan Nasa’i:174

[2] . Hadits Shohih, Fathul Bari III:125 no: 1253. Shohih Muslim II:646 no: 939

[3] . Hadits Shohih, Tuhfatul Ahwadzi 1:204

[4] . Hadits Shohih, Shohih Al-Jami’ (7048)

[5] . Fiqh Sunnah 1:20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: